TERIMAH KASIH ANDA BERKUNJUNG DI BLOG Q ANDA YG KE
Selasa, 17 April 2012
Nabi Musa Menghadapi Kematian
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. : malaikat maut diutus menemui Musa dan setelah bertemu dengannya, Musa menampar dan melukai salah satu matanya. Malaikat itu kembali menemui Tuhannya dan berkata, “Tuhanku, Engkau telahmengutus aku menemui seorang hamba yang tidak menghendaki kematian”. Allah menyembuhkan matanya dan berkata, “temui diakembali dan katakan padanya agar meletakkan telapak tangannya di atas seekor lembu jantan. Aku ijinkan ia untuk hiduplebih lama sesuai dengan banyaknya bulu (lembu jantan) yang tertinggal di bawah telapaktangannya. (maka malaikat itu menemui Musa dan mengatakan apa yang dikatakan Tuhannya). Kemudian Musa bertanya, “ Tuhan, apakah setelah itu?” Tuhan berkata, “setelah itu kematian”. Musa berkata, “(jika begitu) sekaranglah”. Musa memohon Allah membawanya ke sebuah tempat ke dekat Tanah Suci dengan jarak selemparan batu. Rasulullah Saw bersabda, “seandainya aku disana akan kuperlihatkan kubur Musa di dekat bukit pasir merah”.
Raja Thalout
Tugas pertama yang dilakukan oleh Thalout setelah dinobatkan sebagai raja ialah menyusun kekuatan dengan menghimpunkanpara pemuda dan orang-orang yang masih kuat untuk menjadi tentera yang akan menghadapi bangsa Palestin yang terkenal kuat dan berani. Ia menyusun balatenteranya dari orang-orang yang masih kuat, tidak mempunyai tanggungan keluarga, tidak mempunyai ikatan dagang usaha sehingga dapat membulatkan tekadnya untuk berjuang dan memusatkan fikiran dan tenaga bagi mencapai kemenangan dan menghalaukan musuh dari negeri mereka dengansemangat yang teguh yang tidak tergoyahkan. Sebagai ujian untukmengetahui sampai sejauh mana rakyatnya atau barisan tenteranya yang disusun itu berdisiplin mengikuti komando danperintahnya, Thalout berkata mereka: "Kamu dalam perjalananmu di bawah terik panasnya matahari akan melalui sebuah sungai. Maka barang siapadi antara kamu minum dari air sungai itu, ia bukan pengikutku yang setia yang dapat kupercayaikesungguhan hatinya dan kebulatan tekadnya. Sebaliknya barangsiapa di antara kamu yanghanya menciduk air sungai itu seciduk tangan untuk sekadar membasahi kerongkongannya, maka ia ialah seorang pengikutku dan tentera yang benar-benar dapat kuandalkan keberaniannya dan kedisiplinannya."
Ternyata apa yang dikhuatirkan oleh Thalout telah terjadi dan menjadi kenyataan. Setiba barisantentera Thalout di sungai yang dimaksudkan itu, hanya sebahagian kecil sahajalah dari mereka yang berdisiplin mengikutipetunjuk Thalout secara tepat. Sedang bahagian yang besar tidak dapat bersabar menahan dahaganya dan minumlah mereka dari air sungai itu sepuas-puas hatinya. Walaupun telah terjadi pelanggaran disiplin oleh sebahagian besar dari anggota tenteranya, Thalout tetap berkeras hati melanjutkan perjalanannya menuju ke medan perang dengan pasukan yang tidak bersatu padu dan berdisiplinsebagaimana ia menduga dan mengharapkannya. Ia hanya bersandar dan mengandalkan kekuatan tenteranya kepada bahagian kecil yang sudah ternyata setia dan patuh kepadaperintah dan petunjuknya. Sedang terhadap mereka yang sudah melanggar perintahnya danminum dari air sungai itu, Thalout bersikap sabar, lunak dan bijaksana untuk menghindari keretakan di dalam barisan tenteranya sebelum menghadapi musuh.
Tatkala mereka tiba di medan perang dan berhadapan dengan musuh, sebahagian daripada pasukan Thalout ialah mereka yang telah melanggar disiplin dan minum dari air sungai, merasa kecil hati dan ketakutan melihat pasukan musuh yang terdiri dari orang-orang kuat dan besar-besar dengan peralatan yang lebih lengkap dan jumlah tentera yang lebih besar di bawah pimpinan seorang komandan bernama " Jalout ".
Jalout , panglima komandan pasukan musuh terkenal seorang panglima yang berani, cekap dan terkenal tidak pernah kalah dalam peperangan. Tiap orang yang berani bertarung dengan dia pasti jatuh terbunuh. Namanya telah menimbulkan rasa takut dan kecil hati pada bahagian besar dari pasukan Thalout. berkata mereka kepadanya: "Kami tidak berdaya dan tidak akan sanggup menghadapi dan melawan Jalout berserta tenteranya hari ini. Mereka lebih lengkap peralatannya dan lebih besar bilangannya daripada pasukan kami."
Akan tetapi kelompok yang setia yang merupakan golongan yang kecil dalam pasukan Thalout , tidak merasa takut dan gentar menghadapi Jalout dan bala tenteranya, walaupun mereka lebih besar dan lebih lengkap peralatannya kerana mereka keluar ke medan perang mengikuti Thalout dengan tekad yang bulat hendak membebaskan negerinya dari para penyerbu dengan berbekal tawakkal dan iman kepada Allah s.w.t. . Sejak mereka melangkahkan kaki keluardari rumah mereka sudah berniatbulat berjuang bermati-matian melawan musuh yang telah merampas rumah dan tanah mereka dan bersedia mati untuk tugas suci itu. Berkata mereka kepada kawan-kawannya kelompok pengecut itu: "Majulah terus untuk bertempur melawan musuh. Kami tidak akan kalah kerana bilangan yang sedikit ataukerana kelemahan fizikal. Kami akan menggondol kemenangan bila iman di dalam dada kami tidaktergoyahkan dan kepercayaan kami akan pertolongan Allah s.w.t. tidak menipis. Berapa banyak terjadi sudah, bahawa kelompok yang kecil jumlahnya mengalahkan kelompok yang besar, bila Allah s.w.t. mengizinkannya dan memberikan pertolongan- Nya . Dan Allah s.w.t. selalu berada di sisi orang-orang yang beriman, sabar dan
bertawakkal."
Dengan tidak menghiraukan kasak-kusuk dan bisikan kelompok pengecut yang ingin mundur dan melarikan diri dari kewajiban berperang, Raja Thalout terus maju memimpin pasukannya seraya bertawakkal kepada Allah s.w.t. memohon pertolongan dan perlindungan- Nya . Setelah kedua pasukan merapat berhadapan satu denganyang lain dan pertempuran dimulai, keluarlah dari tengah-tengah barisan bangsa Palestin, panglima besarnya yang bernama Jalout berteriak dengan sekuat suaranya menentang pasukan Thalout mengajak bertarung seorang lawan seorang Berulang-ulang ia berseru dengan suara yang lantang agar pihat Thalout mengeluarkan seorang yang akanmelawan dia bertanding dan bertarung namun tidak seorang pun keluar daripada tengah pasukan Bani Isra'il menghadapinya. Kata-kata ejekandan hinaan dilontarkan oleh Jalout kepada pihak musuhnya, pasukan Bani Isra'il yang sedang dicekam oleh rasa takut dan bimbang menghadapi Jalout yangsudah termasyur sebagai jaguh yang tidak pernah terkalahkan itu.
Pada saat yang kritis dan tegangitu di mana rasa malu rendah diri memenuhi dada dan hati para pemimpin pasukan Bani Isra'il yangsedang memandang satu kepada yang lain, seray bertanya-tanya dalam hati masing-masing gerangan siapakah di antara mereka yang dapat maju membungkam mulut si Jalout yang berteriak-teriak itu dan melawannya, datanglah pada saatitu menghadap raja Thalout seorang lelaki remaja berparas tampan, bertubuh kekar dan tegak, sinar matanya memancarkan keberanian dan kecerdasan. Ia meminta izin dari sang raja untuk keluar menyambut tentangan Jalout dan menandinginya.
Thalout merasa kagum akan keberanian pemuda yang telah menawarkan dirinya untuk bertarung dengan Jalout , sementara orang-orang dari pasukannya sendiri yang sudah berpengalaman berperang tidak ada yang tergerak hatinya untukmenyahut cabaran Jalout yang berteriak-teriak melontarkan ejekan dan hinaan. Thalout dengan cermat memperhatikan perawakan pemuda itu merasa berat dan ragu-ragu untuk memberi izin kepadanya turun ke gelanggang melawan Jalout . Ia tidak membayangkan seorang dalam usia semuda itu, yang belum pernah turun ke medan perang dan tidak berpengalaman bertarung akan selamat dan keluar hidup dari pertarungan melawan Jalout . Ia benar-benar bukan tandingannya, kata hati Thalout , bahkan merupakan suatu dosa bila ia melepaskan pemuda itu bertarung dengan Jalout . Sayang bagi usianya yang masih muda itu bila ia akan menjadi korban dan makanan pedang Jalout yang tidak pernahmemberi ampun kepada lawan-lawannya.
Pemuda dengan memperhatikan muka Thalout dapat menangkap isi hatinya bahawa ia ragu-ragu dan bimbang untuk melepaskannya bertarung dengan Jalout maka berkatalah ia kepadanya: "Janganlah engkau terpengaruh oleh usia mudaku dan keadaan fizikalku yang menjadikan engkau ragu-ragu dan khuatir melepaskan aku melawan Jalout kerana yang menentukan dalam pertarungan bukanlah hanya kekuatan fizikal dan kebesaran badan akan tetapiyang lebih penting dari itu ialah keteguhan hati dan keuletan bertempur serta iman dan kepercayaan kepada Allah s.w.t. yang menentukan hidup matinya seseorang hamba- Nya . Beberapahari yang lalu aku telah berhasil menangkap seekor singa dan membunuhnya tatkala ia hendak menyergap dombaku dan sebelumitu terjadi pula aku menghadang seekor beruang yang ganas dan berhasil membunuhnya setelah bergulat mati-matian. Maka bukanlah usia atau kekuatan badan yang merupakan faktor yang menentukan dalam pertempuran tetapi keberanian dan keteguhan hati serta kelincahan dan kecepatan bergerak dengan disertai perhitungan yang tepat, itulah merupakan senjata yang lebih ampuh dalam setiap pertarungan."
Mendengar kata-kata yang penuh semangat yang keluar darihati yang ikhlas dan jujur sedarlah Thalout bahawa pemuda itu berkemahuan keras ingin melawan Jalout . Ia percayakepada dirinya sendiri bahawa ia dapat mengalahkannya maka diberinyalah izin dan restu oleh Thalout untuk melaksanakan kehendaknya dengan diiringi doa semuga Allah s.w.t. melindunginya dan mengurniainya dengan kemenangan yang diharap-harapkan oleh seluruh anggota pasukan. Kemudian ia diberinya pedang, topi baja dan zirah baju besi namun ia enggan mengenakan pakaian yang berat itu dan pedang pun ia menolak untuk membawanya dengan alasan ia belum biasa menggunakan senjata itu. Ia hanya membawa sebuah tongkat beberapa batu kerikil dan sebuahbandul untuk melemparkan batu-batu itu.
Berkatalah Thalout kepadanya:"Bagaimana engkau dapat bertarung dengan hanya bersenjatakan tongkat, bandul dan batu-batu melawan Jalout yang bersenjatakan pedang, panah dan berpakaian lengkap?" Pemuda itu menjawab: " Tuhan yang telah melindungiku dan taring singa dan kuku beruang akan melindungiku pula dari pedang dan panah Jalout yang durhaka itu." Lalu dengan berbekalkan senjata yang sangatsederhana itu, keluarlah ia dari tengah-tengah barisan Bani Isra'il menuju gelanggang di mana Jalout sedang menari-nari mengelu-elukan pedangnya seraya berteriak-teriak mengejekdan menyombangkan diri.
Tatkala Jalout melihat bahawa yang masuk gelanggang hendak bertanding dengan dia adalah seorang pemuda remaja tidak bersenjatakan pedang atau panah dan tidak pula mengenakantopi baja dan zirah, dihinalah ia dan diejek dengan kata-kata:"Untuk apakah tongkat yang engkau bawa itu." Untuk mengejar anjingkah atau untuk memukul anak-anak yang sebaya dengan engkau? Di mana pedangmu dan zirahmu? Rupa-rupanya engkau sudah bosan hidup dan ingin mati padahal engkau masih muda yang belum merasakan suka-dukanya kehidupan dan yang masih harus banyak belajar dari pengalaman. Majulah engkau ke sini akan aku habiskan nyawamu dalam sekelip mata dan akan kujadikan dagingmu makanan yang lazat bagi binatang-binatang di darat dan burung-burung di udara."
Pemuda menjawab: "Engkau boleh bangga dengan zirah dan topi bajamu, boleh merasa kuat dan ampuh dengan pedang dan panahmu yang tidak akan sanggup menyelamatkan nyawamu dan tanganku yang masih halus dan bersih ini. Aku datang ke sini dengan nama Allahs.w.t. Tuhan Bani Isra'il yang telah lama engkau hina, engkau jajah dan engkau tundukkan. Engkau sebentar lagi akan mengetahui pedang dan panahkahyang akan mengakhiri hayatku atau kehendak Allah s.w.t. dan kekuasaan- Nya yang akan meranggut nyawamu dan mengirimkan engkau ke neraka Jahannam?"
Melihat Jalout melangkah maju, maka sebelum ia sempat mendekatinya, sang pemuda segera mengeluarkan batu dari sakunya, melemparkannya denganbandul tepat ke arah kepala Jalout yang seketika itu juga mengalirkan darah dengan derasnya hingga menutupi kedua matanya, lalu diikuti dengan lemparan batu kedua dan ketiga oleh sang pemuda hingga terjatuhlah Jalout tertiarap di atas lantai menghembuskan nafasterakhirnya. Bergemuruhlah suarateriakan gembira dan sorak-soraidari pihak pasukan Bani Isra'il menyambut kemenangan pemuda gagah perkasa itu keatas Jalout jaguh dan kebanggaan bangsa Palestin. Dan dengan matinya Jalout hilanglah semangat tempur pasukan Palestin dan mundurlah mereka melarikan diri tunggang-langgang seraya dikejar dan diajar tanpa ampun oleh pasukan Thalout yang telahmemperoleh kembali semangat juangnya dan harga diri serta kebanggaan nasionalnya.
Nabi Musa dan Qarun si KayaRaya
Qarun adalah nama seorang daripada kaum Nabi Musa dan keluarganya yang dekat. Ia dikurniai Allah s.w.t. kelapangan rezeki dan kekayaan harta bendayang besar yang tidak ternilai bilangannya. Ia hidup mewah, selalu mujur dalam usahanya mengumpulkan kekayaan, sehingga menjadi padatlah khazanahnya dengan harta bendadan benda-benda yang sangat berharga. Sampaikan para juru kuncinya tidak berdaya membawaatau memikul kunci-kunci peti khazanahnya kerana sangat banyak dan beratnya. Ia hidup secara mewah dan menonjol di antara kaum dan penduduk kotanya. Segala-galanya adalah luar biasa dan lain daripada yang lain. Mahligai-mahligai tempat tinggalnya, pakaiannya sehari-hari, pelayan-pelayannya dan hamba-hamba sahayanya yang bilangannya melebihi keperluan. Dan walaupun ia tenggelam dalam lautan kenikmatan duniawi yang tiada taranya pada masa itu, ia merasa masih belum puas dengan tingkat kekayaan yang ia miliki dan terus berusaha mengisi khazanahnya yang sudah padat itu, sifat mausia yang serakah yang tidak akan pernah puas dengan apa yang sudah dicapai. Jika ia sudah memiliki segantang emas ia ingin memperolehi segantang yang kedua dan demikian seterusnya.
Sebagaimana halnya dengan kebanyakan orang-orang kaya yang telah dimabukkan oleh hartabendanya maka Qarun tidak merasa sedikit pun bahawa dia mempunyai kewajiban sosial dengan harta kekayaannya itu. Iadalam hidupnya hanya memikirkankesenangan dan kesejahteraan peribadinya, memikirkan bagaimana ia dapat menambahkankekayaannya yang sudah melimpah-limpah itu. Ia telah dinasihati oleh pemuka-pemuka kaumnya agar ia menyediakan sebahagian daripada kekayaannya bagi menolong para fakir miskin, menolong orang-orang yang telanjang yang tidak berpakaian dan lapar tidak dapatmakanan. Ia diperingatkan bahawa kekayaan yang ia perolehi itu adalah kurniaan dari Tuhan yang harus disyukuri dengan beramal kebajikan terhadap sesama manusia dan melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat meringankan penderitaan orang-orang yang ditimpa musibah atau menderita cacat. Diperingatkan bahawa Allah s.w.t. yang telah memberinya rezeki yang luas itu dapat sewaktu-waktu mencabutnya bila ia melalaikan kewajiban sosialnya.
Nasihat yang baik dan peringatanyang jujur yang dikemukakan olehpemuka-pemuka kaumnya itu tidak diendahkan oleh Qarun dan tidak mendapat tempat didalam hatinya. Ia bahkan merasa bahawa kerana kekayaannya ialah yang harus memberi nasihat dan bukan menerima nasihat. Orang harus tunduk kepadanya, mematuhi perintahnya, mengiakankata-katanya dan membenarkan segala tindak tanduknya. Ia menyombongkan diri dengan mengatakan kepada orang-orangyang memberikan nasihat itu bahawa kekayaan yang ia miliki adalah semata-mata hasil jerih payahnya dan hasil kecekapan dan kepandaiannya berusaha danbukan merupakan kurnia atau pemberian dari sesiapa pun. Kerananya ia bebas menggunakanharta kekayaannya menurut kehendak hatinya sendiri dan tidak merasa terikat oleh kewajipan sosial berupa pertolongan dan bantuan kepada para fakir miskin dan para penderita yang memerlukan bantuan dan pertolongan.
Sebagai tentangan bagi para orang yang menasihatinya, Qarun makin meningkatkan cara hidup mewahnya dan secara mempamerkan kekayaannya dengan berlebih-lebihan. Bila ia keluar, Ia mengenakan pakaian dan perhiasan yang bergemerlapan, membawa pengantar dan pembantu lebih banyak daripada biasanya dan mengenderai kuda-kuda yang dihiasi dengan indah dan cantik. Kemewahan yang ditonjolkan secara menyolok itu, merasakan iri-hati dikalangan penduduk terutama mereka yang masih lemah imannya. Mereka berbisik-bisik diantara sesama mereka mengeluh dengan berkata:"Mengapa kami tidak diberi rezekidan kenikmatan seperti yang telah diberikan kepada Qarun? Alangkah mujurnya nasib Qarun dan alangkah bahagianya dia dalam hidupnya di dunia ini! Dan mengapa Tuhan melimpahkan kekayaan yang besar itu kepada Qarun yang tidak mempunyai rasabelas kasihan terhadap orang-orang yang melarat dan
sengsara, orang-orang yang fakirdan miskin yang memerlukan pertolongan berupa pakaian mahupun makanan. Dimanakah letak keadilan Allah s.w.t. yangMaha Pemurah lagi Maha Pengasih itu?"
Qarun yang tidak mengabaikan anjuran orang, agar ia secara sukarela menyediakan sebahagiaan harta kekayaannya untuk disedekahkan kepada orang-orang yang memerlukannya, melarat dan miskin akhirinya didatangi oleh Nabi Musa menyampaikan kepadanya bahawa Allah s.w.t. telah mewahyukan perintah berzakat bagi tiap-tiap orang yang kaya dan berada. Diterangkan oleh Musa kepadanyabahawa dalam harta kekayaan tiap ada bahagian yang telah ditentukan oleh Tuhan sebagai hak orang-orang yang melarat dan fakir miskin yang wajib diserahkan kepada mereka.
Qarun merasa jengkel menerima perintah wajib berzakat itu dan menyatakan keraguan dan kesangsian kepada Musa. Ia berkata: "Hai Musa kami telah membantumu dan menyokongmu dalam dakwahmu kepada agama barumu. Kami telah menuruti segala perintahmu dan mendengarkan segala kata-katamu. Sikap kami yang lunak itu terhadap dirimu telah memberanikan engkau bertindak lebih jauh dari apa yang sepatutnya dan mulailah engkau ingin meraih harta benda kami. Engkau rupanya ingin juga menguasai harta kekayaan kami setelah kami serahkan kepadamu hati dan fikiran kami sebulat-bulatnya. Dengan perintah wajib zakatmu ini engkau telah membuka topengmu dan menunjukkan dustamu dan bahawa engkau hanya seorang pendusta dan ahli sihir belaka."
Tuduhan Qarun yang ingin melepaskan dirinya dari wajib berzakat itu ditolak oleh Nabi Musa yang menegaskan kembali bahawa kewajiban berzakat itu tidak dapat ditawar-tawar dan harus dilaksanakan kerana ia adalah perintah Allah s.w.t. yangharus ditaati dan dilaksanakan dengan semestinya. Quran tidak dapat jalan untuk mengelakkan diri dan kewajiban zakat itu setelah berbantah dan berdebat dengan Musa maka ia menyerah dan ditentukan berapa besar yang harus ia keluarkan zakat harta kekayaannya.
Setelah tiba di rumah dan menghitung-hitung bahagian yangharus dizakatkan dari harta miliknya Qarun merasa terlampau besar yang harus dizakatkan danmerasa sayang bahawa ia harus mengeluarkan dari khazanahnya sejumlah wang tanpa memperolehiimbalan sesuatu keuntungan dan laba. Fikir punya fikir dan timbangpunya timbang akhirnya Qarun mengambil keputusan untuk tidakakan mengeluarkan zakat walau apapun yang akan terjadi akibat tindakannya itu. Untuk menguatkan aksi pemboikotannyaterhadap kewajiban mengeluarkan zakat, Qarun menyebarkan fitnah kepada Nabi Musa dengan maksud menarik orang agar menjadikan penunjangaksinya dan mengikutinya menolak menolak kewajiban mengeluarkan zakat sebagaimanadiperintahkan oleh Nabi Musa. Ia menyebarkan fitnah seolah-olah Nabi Musa dengan dakwahnya danpenyiaran agama barunya bertujuan ingin memperkayakan diri dan bahwa perintah zakatnyaitu adalah merupakan cara perampasan yang halus terhadap milik-milik para pengikutnya.
Lebih jahat lagi untuk menjatuhkan Nabi Musa dan kewibawaannya, Qarun bersekongkol dengan seorang wanita yang diajarinya agar mengaku didepan umum bahawa ia telah melakukan perbuatan zina dengan Musa. Akan tetapi Allah s.w.t. tidak rela nama Rasul- Nya tercemar oleh tuduhanpalsu yang diaturkan oleh Qarun itu. Maka digerakkanlah hati wanita sewaannya itu untuk mengatakan keadaan yang sebenarnya dan bahawa apa yang ia tuduhkan kepada Nabi Musa adalah fitnahan dan ajaran Qarun semata-mata dan bahawasannya Musa adalah bersih dari perbuatan yang dituduh itu.
Setelah ternyata bagi Nabi Musa bahawa Qarun tidak beriktikad baik dan bahawa ia tidak dapat diharap menjadi pengikut yang soleh yang mematuhi perintah Allah s.w.t. terutama perintah wajib zakat bahkan ia dapat merosakkan akhlak dan iman parapengikut Musa dengan sikap dan cara hidupnya yang berlebih-lebihan mewahnya, ditambahkan pula usahanya yang tidak henti-henti merosakkan kewibawaan Nabi Musa dengan melontarkan fitnahan dan berbagai hasutan maka habislah kesabaran Nabi Musa, lalu berdoa ia kepada Allahs.w.t. agar menurunkan azab- Nya atas diri Qarun yang sombong dan congkak itu, agar menjadi pengajaran dan ibrah bagi kaumnya yang sudah mulai goyah imannya melihat kenikmatan yang berlimpah-limpahyang telah Allah s.w.t. kurniakankepada Qarun yang membangkangitu.
Maka dengan izin Allah s.w.t. yang telah memperkenankan doa Nabi Musa terjadilah tanah runtuhyang dahsyat di atas mana terletak bangunan mahligai-mahligai yang mewah tempat tinggal Qarun dan tempat penimbunan kekayaannya. Terbenamlah seketika itu Qarun hidup-hidup berserta semua milik kekayaan yang menjadi kebanggaannya. Peristiwa yang menimpa Qarun dan harta kekayaannya itu menjadi ibrah bagi pengikut-pengikut Nabi Musaserta ubat rohani bagi mereka yang beriri hati dan mendambakan kenikmatan dan kemewahan hidup sebagaimana yang telah dialami oleh Qarun. Mereka berkata seraya bersyukur kepada Allah s.w.t. :"Sekiranya Allah s.w.t. telah melimpahkan rahmat dan kurnia- Nya , nescaya kami dibenamkan pula seperti Qarun yang selalu kami inginkan kedudukan duniawinya. Sesungguhnya kami telah tersesat ketika kami beriri hati dan mendambakan kekayaannya yang membawa binasa baginya. Aduhai benar-benar tidaklah beruntung orang-orang yang mengingkari nikmat Allah s.w.t. ."
Nabi Musa dan Al-Khidhir
Pada suatu ketika berpidatolah Nabi Musa di depan kaumnya Bani Isra'il. Ia berdakwah kepada mereka, memberi nasihat dengan mengingatkan kepada mereka akan kurnia dan nikmat Allah s.w.t. yang telah dicurahkan kepada mereka yang sepatutnya diimbangi dengan syukur dan pelaksanaan ibadah yang tulus, melakukan segala perintah- Nya dan meninggalkan segala larangan- Nya . Kepada mereka yang beriman, bertaat dan bertakwa, Nabi Musa menjanjikan pahala syurga dan bagi mereka yang mengingkari nikmat Allah s.w.t. diancam dengan seksa api neraka.
Begitu Nabi Musa mengakhiri pidatonya bangunlah di antara para hadiri bertanya kepadanya:"Wahai Musa, siapakah di atas bumi Allah s.w.t. ini paling pandaidan paling berpengetahuan?""Aku", jawab Musa. Apakah tidak ada kiranya orang yang lebih pandai dan lebih berpengetahuan daripadamu?" Tanya lagi si penanya itu. "Tidak ada" , ujar Musa seraya berkata dalam hati kecilnya: "Bukankah aku Nabi terbesar di antara Bani Isra'il? Aku adalah penakluk Fir'aun, pemegang berbagai mukjizat, yang telah dapat membelah laut dengan tongkatku dan akulah yang memperoleh kesempatan bercakap-cakap langsung dengan Tuhan . Maka kemuliaan apa lagi yang dapat melebihi kemuliaan serta kebesaran yang aku capai itu, yang belum pernah dialami dan dicapai oleh sesiapa pun sebelum aku."
Rasa sombong dan keunggulan diriyang tercermin dalam kata-kata Nabi Musa, dicela oleh Allah s.w.t. yang memperingatkan kepadanya bahawa ilmu itu adalahlebih luas untuk dimiliki oleh seseorang walaupun ia adalah seorang rasul dan bahawa bagaimana luasnya ilmu dan pengetahuan seseorang, nescaya akan terdapat orang lain yang lebih pandai dan lebih alim daripadanya. Selanjutnya untuk melanjutkan kekurangan yang ada pada diri Nabi Musa, Allah s.w.t. memerintahkan kepadanya agar menemui seorang hamba- Nya di suatu tempat di mana dualautan bertemu. Hamba yang soleh yang telah diberinya rahmatdan ilmu oleh Allah s.w.t. itu akan memberi tambahan pengetahuan dan ilmu kepada Nabi Musa sehingga dapat menjadikan sedar bahawa tiada manusia yang dapat membanggakan diri dengan mengatakan bahawa akulah orang yang terpandai dan berpengetahuan luas di atas bumiini.
Berkata Musa kepada Tuhan :"Wahai Tuhan ku, aku akan pergi mencari hamba- Mu yang soleh itu, bagi memperolehi bunga api ilmunya dan mendapat titisan air pengetahuan dan ilham yang Engkau telah berikan kepadanya." Allah s.w.t. berfirman kepada Musa: " Bawalah seekor ikan didalamsebuah keranjang dalam perjalananmu mencari dia dan ketahuilah bahawa di tempat di mana engkau akan kehilangan ikan di dalam keranjang itu, di situ engkau akan menemui hamba- Ku yang soleh itu ." Nabi Musa menyiapkan diri untuk perjalanan yang jauh, didampingi oleh "Yusya' bin Nun" seorang daripada para pengikutnya yang setia. Ia membawa bekal makanandan minuman di antaranya sebuahkeranjang yang terisi seekor ikansesuai dengan petunjuk Allah s.w.t. . Ia berkeras hati tidak akan kembali sebelum ia dapat menemui hamba yang soleh itu walaupun ia harus melakukan perjalanan yang berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun bila perlu.Ia berpesan kepada teman sepejalanannya Yusya' bin Nun agar segera memberitahu kepadanya bilamana ikan yang di dalam keranjang yang dibawanya itu hilang.
Tatkala Nabi Musa berserta Yusya' bin Nun sampai di mana dua lautan bertemu yang telah diisyaratkan dalam firman Allah s.w.t. kepadanya, tertidurlah ia di atas sebuah batu yang besar yang berada di tepi lautan. Pada saat ia lagi tidur nyenyak, turunlah hujan rintik-rintik, membasahi seekor di dalam keranjang itu dan tanpa mereka ketahui melompatlah ikan tersebut itu masuk ke dalam laut.Setelah Musa terjaga dari tidurnya, bangunlah mereka meneruskan perjalanan yang tidak menentu arah mahupun tujuan. Dan dalam perjalanan yang sudah agak jauh, berhentilah Musa beristirehat sekadar untuk menghilangkan rasa penatnya seraya meminta dari Yusya bin Nun agar menyiapkan santapannya kerana ia sudah sangat lapar. Ketika Yusya bin Nun membuka keranjang untuk mengambil makanan teringatlah olehnya akan ikan yang hilang dan melompat ke dalam laut. Maka berkatalah Yusya' kepada Nabi Musa: "Aku telah dilupakan oleh syaitan laknatullah untuk memberitahu kepadamu segera, bahawa tatkala engkau berada diatas batu karang sedang tidur nyenyak, ikan kami yang berada di dalam keranjang tiba-tiba hidupkembali setelah kejatuhan air hujan dan melompat masuk ke dalam laut. Sepatutnya aku melapurkan kepadamu segera, sesuai dengan pesananmu, namunaku dilupakan oleh syaitan laknatullah."
Wajah Nabi Musa berseri-seri menjadi kegirangan mendengar berita itu dari Yusya' karena telah dapat mengetahui di mana ia akan dapat bertemu dengan hamba Allah yang dicari itu. Berkata Musa kepada Yusya':"Inilah tempat yang kami tuju dandisini kami akan menemui orang yang kami cari. Marilah kami kembali ke tempat batu karang itu yang menjadi tempat tujuan terakhir dari perjalanan kami yang jauh ini." Setiba mereka kembali di tempat di mana merekakehilangan ikan, mereka melihat seorang bertubuh kurus langsing yang pada wajahnya tampak cahaya dan iman serta tanda-tanda orang soleh. Ia sedang menutupi tubuhnya dan pakaiannya sendiri, yang segera disingkapnya ketika mendengar kata-kata salam Nabi Musa kepadanya.
"Siapakah engkau?" bertanya orang soleh itu. Musa menjawab:"Aku adalah Musa." Bertanya kembali orang soleh itu: "Musa, nabi Bani Isra'ilkah?" "Betul", jawab Musa, seraya bertanya:"Dari manakah engkau mengetahui bahawa aku adalah Nabi Bani Isra'il?" "Dari yang mengutusmu kepadaku", jawab orang soleh itu. "Inilah hamba Allahyang aku cari", berkata Musa dalam hatinya, seraya mendekatinya dan berkata kepadanya: "Dapatkah engkau memperkenankan aku mengikutimu dan berjalan bersamamu ke mana saja engkau pergi sebagai bayanganmu dan sebagai muridmu? Aku akan mematuhi segala petunjuk dan perintahmu."
Hamba soleh atau menurut banyak pendapat ahli-ahli tafsir Nabi Al-Khidhir itu menjawab:"Engkau tidak akan sabar dan tidak dapat menahan diri bila engkau mengikutiku dan berjalan bersamaku. Engkau akan mengalami dan melihat hal-hal yang ajaib yang sepintas lalu nampak seakan-akan perbuatan yang salah dan mungkar namun pada hakikatnya adalah perbuatan benar dan wajar dan engkau sebagai manusia tidak akan berdiam diri melihatku melakukan perbuatan dan tingkahlaku yang ganjil menurut pandanganmu."
Musa menjawab dengan sikap seorang murid yang ingin belajar dan menambah pengetahuan :"Insya-Allah engkau akan mendapati aku seorang yang sabar yang tidak akan melanggarsesuatu perintah atau petunjuk daripadamu." Berkata Al-Khidhir kepada Musa: "Jika engkau benar-benar ingin mengikutiku dan berjalan bersamaku maka engkau harus berjanji tidak akan mendahului bertanya tentang sesuatu sebelum aku memberitahukan kepadamu. Engkau harus berjanji bahawa engkau tidak akan menentang segala perbuatan dan tindakan yang aku lakukan dihadapan mu walaupun menurut pandanganmu itu salah dan mungkar. Aku dengan sendirinya memberi alasandan tafsiran bagi segala tindakan dan perbuatanmu kepadamu kelak pada akhir perjalanan kami berdua."
Dengan diterimanya pesyaratan Nabi Al-Khidhir oleh Musa yang berjanji akan mematuhinya bulat-bulat, maka diajaklah Nabi Musa mengikutinya dalam perjalanan. Pelanggaran pertama terhadap persyaratan Al-Khidhir terjadi tatkala mereka sampai di tepi pantai, di mana terdapat sebuah perahu sedang berlabuh. Nabi Al-Khidhir meminta pertolongan pemilik perahu itu, agar menghantar mereka di suatu tempat yang di tuju. Dengan senang hati diangkutlah mereka berdua secara percuma tanpa bayaran bahkan dihormati dan diberi layanan yang baik kerana dilihatnya oleh pemilik perahu bahawa kedua orang itu memiliki sifat-sifat dan ciri-ciri yang tidak terdapat pada orang biasa.
Tatkala mereka berada dalam perut perahu yang sedang meluncur dengan lajunya di antara gelombang-gelombang tiba-tiba Musa melihat Al-Khidhir melubangi perahu itu dengan mengambil dua keping kayunya. Perbuatan mana yang dianggap oleh Musa suatu gangguan dan merosakkan bagi milik seseorang yang telah berbuat baik terhadapmereka. Musa lupa akan janjinya sendiri dan ditegurlah Al-Khidhir dengan berkata: "Engkau telah melakukan perbuatan mungkar dengan merosak dan melubangi perahu ini. Apakah dengan perbuatan kamu ini engkau hendak menenggelamkan perahu ini dengan semua penumpangnya?Tidakkah engkau merasa kasihan kepada pemilik perahu ini yang telah berjasa kepada kami dan menghantarkan kami ke tempat yang kami tuju tanpa membayar sesen pun?"
Berkata Al-Khidhir menjawab teguran Musa: "Bukankah aku telah katakan kepadamu bahawa engkau tidak akan sabar menahan diri melihat tindak-tandukku di dalam perjalanan menyertaiku." Musa berkata:"Maafkanlah aku. Aku telah lupa akan janjiku sendiri. Janganlah aku dipersalahkan dan dimarahi akan kelupaanku." Permintaan maaf Musa diterimalah oleh Al-Khidhir dan tibalah meeka berdua di tempat yang dituju di sebuah pantai. Kemudian perjalanan dilanjutkan di darat dan bertemulah mereka dengan seorang anak laki-laki yang sedang bermain-main dengan kawan-kawannya. Tiba-tiba dipanggillah anak itu oleh Al-Khidhir, dibawanya ke tempat yang agak jauh, dibaringkannya dan dibunuhnya seketika itu. Alangkah terperanjatnya Musa melihat tindakan Al-Khidhir yang dengan sewenang-wenangnya telah membunuh seorang anak yang tidak berdosa, seorang yang mungkin sekali dalam fikiran Musa adalah harapan satu-satunya bagi kedua orang tuanya.
Musa sebagai Nabi yang diutus oleh Allah s.w.t. untuk memerangi kemungkaran dan kejahatan tidak dapat berdiam diri melihat Al-Khidhir melakukan pembunuhan yang tiada beralasanitu, maka ditegurlah ia seraya berkata: "Mengapa engkau telah membunuh seorang anak yang tidak berdosa? Sesungguhnya engkau telah melakukan perbuatan yang mungkar dan keji."
Al-Khidhir menjawab dengan sikapdinginnya: "Bukankah aku telah berkata kepadamu, bahawa engkau tidak akan sabar menahan diri berjalan dengan aku?"
Dengan rasa malu mendengar teguran Al-Khidhir itu, berucaplahMusa: "Maafkanlah aku untuk kedua kalinya dan perkenankanlah untuk aku meneruskan perjalanan bersamamu dengan pergertian bahawa bila terjadi lagi perlanggaran dari pihakku untuk kali ketiganya, maka janganlah aku diperbolehkan menyertaimu seterusnya. Sesungguhnya telah cukup engkau memberi uzur dan memberi maaf kepadaku." Dengan janji terakhir yang diterima oleh Al-Khidhir dari Musa diteruskanlahperjalanan mereka berdua sampaitiba di suatu desa di mana mereka ingin beristirehat untuk menghilangkan lelah dan penat mereka akibat perjalanan jauh yang telah ditempuh. Mereka berusaha untuk mendapat tempat penginapan sementara dan sedikit bahan makanan untuksekadar mengisi perut kosong mereka, namun tidak seorang pundari penduduk desa yang memangterkenal kedekut itu yang mahu menolong mereka memberi tempat beristirehat atau sesuap makanan sehingga dengan rasa kecewa mereka segera meninggalkan desa itu.
Dalam perjalanan Musa dan Al-Khidhir hendak keluar dari desaitu mereka melihat dinding salah satu rumah desa itu nyaris roboh.Segera AL-Khidhir menghampiri dinding itu dan ditegakkannya kembali. Dan secara spontan, tanpa disedar, berkata Musa kepada Al-Khidhir: "Hairan bin ajaib, mengapa engkau berbuat kebaikan bagi orang-orang yang jahat dan kedekut ini? Mereka telah menolak untuk memberi kepada kami tempat istirehat dansesuap makanan untuk perut kami yang lapar. Sepatutnya engkau menuntut upah bagi usahamu menegakkan dinding itu, agar dengan upah yang engkau perolehi itu dapat kami menutupi keperluan makan minum kami." Al-Khidhir menjawab: "Wahai Musa,inilah saat untuk kami berpisah sesuai dengan janjimu yang terakhir. Cukup sudah aku memberimu kesempatan dan uzur.Akan tetapi sebelum kami berpisah, akan aku berikan kepadamu tujuan serta alasan-alasan perbuatan-perbuatanku yang engkau rasakan tidak wajardan kurang patut."
"Ketahuilah hai Musa", Al-Khidhir melanjutkan huraiannya, "Bahawapengrosakan bahtera yang kami tumpangi itu adalah dimaksudkan untuk menyelamatkannya dari pengambil-alihan oleh seorang raja yang zalim yang sedang mengejar di belakang bahtera itu.Sedang bahtera itu adalah milik orang-orang fakir-miskin yang digunakan sebagai sarana mencarinafkah bagi hidup mereka sehari-hari. Dengan melubangi yang aku lakukan dalam bahtera itu, si rajayang zalim itu akan berfikir dua kali untuk merampas bahtera itu yang dianggapnya rosak dan berlubang itu. Maka perbuatanku yang pada lahirnya adalah pengrosakan milik orang, namun tujuannya ialah menyelamatkannya dari tindakan perampasan sewenang-wenangnya."
"Adapun tentang anak yang aku bunuh itu ialah bertujuan menyelamatkan kedua orang tuanya dari gangguan anak yang durhaka itu. Kedua orang tua anak itu adalah orang-orang yang mukmin, soleh dan bertakwayang aku khuatirkan akan menjadi tersesat dan melakukan hal-hal yang buruk kerana dorongan anaknya yang durhaka itu. Aku harapkan dengan matinyaanak itu Allah s.w.t. akan mengurniai anak pengganti yang soleh dan berbakti kepada mereka berdua."
Sedang mengenai dinding rumah yang ku perbaiki dan ku tegakkan kembali itu adalah kerana dibawahnya terpendam harta peninggalan milik dua oranganak yatim piatu. Ayah mereka adalah orang yang soleh ahli ibadah dan Allah s.w.t. menghendaki bahawa warisan yang ditinggalkan untuk kedua anaknya itu sampai ketangan mereka selamat dan utuh bila mereka sudah mencapai dewasanya, sebagai rahmat dari Tuhan serta ganjaran bagi ayah mereka yang soleh dan bertakwaitu."
"Demikianlah wahai Musa, apa yang ingin engkau ketahui tentang tujuan tindakan-tindakanku yang sepintas lalu engkau anggap buruk dan melanggar hukum. Semuanya itu telah kulakukan bukan atas kehendakku sendiri tetapi atas tuntunan wahyu Allah s.w.t. kepadaku."
Bani Isra'il Mengembara Tidak Berketentuan Tempat Tinggalnya
Tidak kurang-kurang kurniaan Allah s.w.t. yang diberikan kepada kaum Bani Isra'il. Mereka telah dibebaskan dari kekuasaan Fir'aun yang kejam yang telah menindas dan memperhambakan mereka berabad-abad lamanya. Telah diperlihatkan kepada mereka bagaimana Allah s.w.t. telah membinasakan Fir'aun, musuh mereka tenggelam di laut. Kemudian tatkala mereka berada di tengah-tengah padang pasir yang kering dan tandus, Allah s.w.t. telah memancarkan air darisebuah batu dan menurunkan hidangan makanan " Manna dan Salwa " bagi keperluan mereka.
Di samping itu Allah s.w.t. mengutuskan beberapa orang rasul dan nabi dari kalangan mererka sendiri untuk memberi petunjuk dan bimbingan kepada mereka. Akan tetapi kurnia dan nikmat Allah s.w.t. yang susul-menyusul yang diberikan kepada mereka, tidaklah mengubah sifat-sifat mereka yang tidak mengenalsyukur, berkeras kepala dan selalu membangkang terhadap perintah Allah s.w.t. yang diwahyukan kepada rasul- Nya . Demikianlah tatkala Allah s.w.t. mewahyukan perintah- Nya kepada Nabi Musa untuk memimpin kaumnya pergi ke Palestin, tempat suci yang telah dijanjikan oleh Allah s.w.t. kepada Nabi Ibrahim untuk menjadi tempat tinggal anak cucunya, mereka membangkang dan enggan melaksanankan perintah itu. Alasan penolakan mereka ialah kerana mereka harus menghadapi suku " Kana'aan " yang menurut anggapan mereka adalah orang-orang yang kuat dan perkasa yang tidak dapat dikalahkan dan diusir dengan aduan kekuatan. Mereka tidak mempercayai janji Allah s.w.t. melalui Musa, bahawadengan pertolongan- Nya merekaakan dapat mengusir suku Kan'aan dari kota Ariha untuk dijadikan tempat pemukiman mereka selama-lamanya.
Berkata mereka tanpa malu, menunjuk sifat pengecutnya kepada Musa: "Hai Musa, kami tidak akan memasuki Ariha sebelum orang-orang suku Kan'aan itu keluar. Kami tidak berdaya menghadapi mereka dengan kekuatan fizikal kerana mereka telah terkenal sebagai orang-orang yang kuat dan perkasa. Pergilah engkau berserta Tuhan mu memerangi dan mengusir orang-orang suku Kan'aan itu dan tinggalkanlah kami di sini sambil menanti hasil perjuanganmu." Nabi Musa kesal melihat sikap kaumnya yang pengecut itu yang tidak mau berjuang dan memeras keringat untuk mendapat tempat pemukiman tetapi ingin memperolehnya secara hadiah atau melalui mukjizat sebagaimanamereka telah mengalaminya dan banyak peristiwa. Dan yang menyedihkan hati Musa ialah kata-kata mengejek mereka yangmenandakan bahawa dada mereka masih belum bersih dari benih kufur dan syirik kepada Allah s.w.t. .
Dalam keadaan marah setelah mengetahui bahawa tiada seorang daripada kaumnya yang akan mendampinginya melaksanakan perintah Allah s.w.t. itu, berdoalah Nabi Musa kepada Allah s.w.t. : "Ya Tuhan ku, aku tidak menguasai selain diriku dan diri saudaraku Harun, maka pisahkanlah kami dari orang-orang yang fasiq yang mengingkari nikmat dan kurnia- Mu ." Sebagaimana hukuman bagi Bani Isra'il yang telah menolak perintah Allah s.w.t. memasuki Palestin, Allah s.w.t. mengharamkan negeri itu atas mereka selama empat puluh tahun dan selama itu mereka akan mengembara berkeliaran di atas bumi Allah s.w.t. tanpa mempunyai tempat mukim yang tetap. Mereka hidup dalam kebingungan sampai musnahlah mereka semuanya dan datang menyusul generasi baru yang akan mewarisi negeri yang suci itu sebagaimana yang telah disanggupkan oleh Allah s.w.t. kepada Nabi Ibrahim a.s.
Tidak kurang-kurang kurniaan Allah s.w.t. yang diberikan kepada kaum Bani Isra'il. Mereka telah dibebaskan dari kekuasaan Fir'aun yang kejam yang telah menindas dan memperhambakan mereka berabad-abad lamanya. Telah diperlihatkan kepada mereka bagaimana Allah s.w.t. telah membinasakan Fir'aun, musuh mereka tenggelam di laut. Kemudian tatkala mereka berada di tengah-tengah padang pasir yang kering dan tandus, Allah s.w.t. telah memancarkan air darisebuah batu dan menurunkan hidangan makanan " Manna dan Salwa " bagi keperluan mereka.
Di samping itu Allah s.w.t. mengutuskan beberapa orang rasul dan nabi dari kalangan mererka sendiri untuk memberi petunjuk dan bimbingan kepada mereka. Akan tetapi kurnia dan nikmat Allah s.w.t. yang susul-menyusul yang diberikan kepada mereka, tidaklah mengubah sifat-sifat mereka yang tidak mengenalsyukur, berkeras kepala dan selalu membangkang terhadap perintah Allah s.w.t. yang diwahyukan kepada rasul- Nya . Demikianlah tatkala Allah s.w.t. mewahyukan perintah- Nya kepada Nabi Musa untuk memimpin kaumnya pergi ke Palestin, tempat suci yang telah dijanjikan oleh Allah s.w.t. kepada Nabi Ibrahim untuk menjadi tempat tinggal anak cucunya, mereka membangkang dan enggan melaksanankan perintah itu. Alasan penolakan mereka ialah kerana mereka harus menghadapi suku " Kana'aan " yang menurut anggapan mereka adalah orang-orang yang kuat dan perkasa yang tidak dapat dikalahkan dan diusir dengan aduan kekuatan. Mereka tidak mempercayai janji Allah s.w.t. melalui Musa, bahawadengan pertolongan- Nya merekaakan dapat mengusir suku Kan'aan dari kota Ariha untuk dijadikan tempat pemukiman mereka selama-lamanya.
Berkata mereka tanpa malu, menunjuk sifat pengecutnya kepada Musa: "Hai Musa, kami tidak akan memasuki Ariha sebelum orang-orang suku Kan'aan itu keluar. Kami tidak berdaya menghadapi mereka dengan kekuatan fizikal kerana mereka telah terkenal sebagai orang-orang yang kuat dan perkasa. Pergilah engkau berserta Tuhan mu memerangi dan mengusir orang-orang suku Kan'aan itu dan tinggalkanlah kami di sini sambil menanti hasil perjuanganmu." Nabi Musa kesal melihat sikap kaumnya yang pengecut itu yang tidak mau berjuang dan memeras keringat untuk mendapat tempat pemukiman tetapi ingin memperolehnya secara hadiah atau melalui mukjizat sebagaimanamereka telah mengalaminya dan banyak peristiwa. Dan yang menyedihkan hati Musa ialah kata-kata mengejek mereka yangmenandakan bahawa dada mereka masih belum bersih dari benih kufur dan syirik kepada Allah s.w.t. .
Dalam keadaan marah setelah mengetahui bahawa tiada seorang daripada kaumnya yang akan mendampinginya melaksanakan perintah Allah s.w.t. itu, berdoalah Nabi Musa kepada Allah s.w.t. : "Ya Tuhan ku, aku tidak menguasai selain diriku dan diri saudaraku Harun, maka pisahkanlah kami dari orang-orang yang fasiq yang mengingkari nikmat dan kurnia- Mu ." Sebagaimana hukuman bagi Bani Isra'il yang telah menolak perintah Allah s.w.t. memasuki Palestin, Allah s.w.t. mengharamkan negeri itu atas mereka selama empat puluh tahun dan selama itu mereka akan mengembara berkeliaran di atas bumi Allah s.w.t. tanpa mempunyai tempat mukim yang tetap. Mereka hidup dalam kebingungan sampai musnahlah mereka semuanya dan datang menyusul generasi baru yang akan mewarisi negeri yang suci itu sebagaimana yang telah disanggupkan oleh Allah s.w.t. kepada Nabi Ibrahim a.s.
Salah satu dari beberapa mukjizatyang telah diberikan oleh Allah s.w.t. kepada Nabi Musa ialah penyembelihan sapi yang terkenaldengan sebutan sapi Bani Isra'il.
Dikisahkan bahawa ada seorang anak laki-laki putera tunggal dari seorang kaya-raya memperolehi warisan harta peninggalan yang besar dari ayahnya yang telah wafat tanpa meninggalkan seorang pewaris selain putera tunggalnya itu. Saudara-saudara sepupu dari putera tunggal itu iri hati dan ingin menguasai harta peninggalan yang besar itu atau setidak-tidaknya sebahagian daripadanya. Dan kerana menuruthukum yang berlaku pada waktu itu yang tidak memberikan hak kepada mereka untuk memperoleh walau sebahagian dari peninggalan bapa saudara mereka, mereka bersekongkol untuk membunuh saudara sepupupewaris itu, sehingga bila ia sudahmati hak atau warisan yang besar itu akan jatuh kepada mereka.
Pembunuh atas pewaris sah itu dilaksanakan menurut rencana yang tersusun rapi kemudian datanglah mereka kepada Nabi Musa melaporkan, bahawa mereka telah menemukan saudara sepupunya mati terbunuh oleh seorang yang tidakdikenal identitinya mahupun tempat di mana ia menyembunyikan diri. Mereka mengharapkan Nabi Musa dapat menyingkap tabir yang menutupi peristiwa pembunuhan itu serta siapakah gerangan pembunuhnya.Untuk keperluan itu, Nabi Musa memohon pertolongan Allah s.w.t. yang segera menwahyukanperintah kepadanya agar ia menyembelih seekor sapi dan dengan lidah sapi yang disembelih itu dipukullah mayat sang korban yang dengan izin Allah s.w.t. akan bangun kembali memberitahukan siapakah sebenarnya yang telah melakukanpembunuhan atas dirinya.
Tatkala Nabi Musa menyampaikan cara yang diwahyukan oleh Allah s.w.t. itu kepada kaumnya ia ditertawakan dan diejek kerana akal mereka tidak dapat menerima bahawa hal yang sedemikian itu boleh terjadi. Mereka lupa bahawa Allah s.w.t. telah berkali-kali menunjukkan kekuasaan- Nya melalui mukjizat yang diberikan kepada Musa yangkadang kala bahkan lebih hebat dan lebih sukar untuk diterima oleh akal manusia berbanding mukjizat yang mereka hadapi dalam peristiwa pembunuhan pewaris itu. Berkata mereka kepada Musa secara mengejek:"Apakah dengan cara yang engkau usulkan itu, engkau bermaksud hendak menjadikan kami bahan ejekan dan tertawaan orang? Akan tetapi kalau memang cara yang engkau usulkan itu adalah wahyu, maka cubalah tanya kepada Tuhan mu,sapi betina atau jantankah yang harus kami sembelih? Dan apakah sifat-sifatnya serta warna kulitnya agar kami tidak dapat salah memilih sapi yang harus kami sembelih?"
Musa menjawab: "Menurut petunjuk Allah s.w.t. , yang harus disembelih itu ialah sapi betina berwarna kuning tua, belum pernah dipakai untuk membajak tanah atau mengairi tanaman tidak cacat dan tidak pula ada belangnya." Kemudian dikirimkanlah orang ke pelosok desa dan kampung-kampung mencari sapi yang dimaksudkan itu yang akhirnya diketemukannya pada seorang anak yatim piatu yang memiliki sapi itu sebagai satu-satunya harta peninggalan ayahnya serta menjadi satu-satunya sumber nafkah hidupnya. Ayah anak yatimitu adalah seorang fakir miskin yang soleh, ahli ibadah yang tekun yang pada saat mendekati waktu wafatnya, berdoalah kepada Allah s.w.t. memohon perlindungan bagi putera tunggalnya yang tidak dapat meninggalkan warisan apa-apa baginya selain seekor sapi itu. Maka berkat doa ayah yang solehitu terjuallah sapi si anak yatim itu dengan harga yang berlipat ganda kerana memenuhi syarat dan sifat-sifat yang diisyaratkan oleh Musa untuk disembelih.
Setelah disembelih sapi yang dibelidari anak yatim itu, diambil lidahnya oleh Nabi Musa, lalu dipukulkannya pada tubuh mayat,yang seketika bangunlah ia hidup kembali dengan izin Allah s.w.t. , menceritakan kepada Nabi Musa dan para pengikutnya bagaimana ia telah dibunuh oleh saudara-saudara sepupunya sendiri. Demikianlah mukjizat Allah s.w.t. yang kesekian kalinya diperlihatkan kepada Bani Isra'il yang keras kepala dan keras hati
itu namun belum juga dapat menghilangkan sifat-sifat congkakdan membangkang mereka atau mengikis-habis bibit-bibit syirik dan kufur yang masih melekat pada dada dan hati mereka.
Bani Isra'il Kembali Menyembah Patung Anak Lembu
Nabi Musa berjanji kepada Bani Isra'il yang ditinggalkan di bawah pimpinan Nabi Harun bahawa ia tidak akan meninggalkan mereka lebih lama dari tiga puluh hari, dalam perjalananya ke Thur Sina untuk berminajat dengan Tuhan . Akan tetapi berhubung dengan adanya perintah Allah s.w.t. kepada Musa untuk melengkapi jumlah hari puasanya menjadi empat puluh hari, maka janjinya itu tidak dapat ditepati dan kedatangannya kembali ke tengah-tengah mereka tertunda menjadi sepuluh hari lebih lama daripada yang telah dijanjikan.
Bani Isra'il merasa kecewa dan menyesalkan kelambatan kedatangan Nabi Musa kembali ketengah-tengah mereka. Mereka menggerutu dan mengomel dengan melontarkan kata-kata kepada Nabi Musa seolah-olah ia telah meninggalkan mereka dalamkegelapan dan dalam keadaan yang tidak menentu. Mereka merasa seakan-akan telah kehilangan pimpinan yang biasanya memberi bimbingan dan petunjuk-petunjuk kepada mereka. Keadaan yang tidak puasdan bingung yang sedang meliputikelompok Bani Isra'il itu, digunakan oleh seorang munafiq, bernama Samiri yang telah
Musa Bermunajat Dengan Allah
Menurut riwayat sementara ahli tafsir, bahawasanya tatkala Nabi Musa berada di Mesir, ia telah berjanji kepada kaumnya akan memberi mereka sebuah kitab suci yang dapat digunakan sebagai pedoman hidup yang akanmemberi bimbingan dan sebagai tuntunan bagaimana cara merekabergaul dan bermuamalah dengansesama manusia dan bagaimana mereka harus melakukan persembahan dan ibadah mereka kepada Allah s.w.t. . Di dalam kitab suci itu mereka akan dapat petunjuk akan hal-hal yang halal dan haram, perbuatan yang baik yang diredhai oleh Allah s.w.t. di samping perbuatan-perbuatan yang mungkar yang dapat mengakibatkan dosa dan murkanya Tuhan .
Maka setelah perjuangan menghadapi Fir'aun dan kaumnya yang telah tenggelam binasa di laut selesai, Nabi Musa memohon kepada Allah s.w.t. agar diberinya sebuah kitab suci untukmenjadi pedoman dakwah dan risalahnya kepada kaumnya. Lalu Allah s.w.t. memerintahkan kepadanya agar untuk itu ia berpuasa selama tiga puluh hari penuh, iaitu semasa bulan Zulkaedah. Kemudian pergi ke Bukit Thur Sina di mana ia akan diberi kesempatan bermunajat dengan Tuhan serta menerima kitab yang diminta.
Setelah berpuasa selama tiga puluh hari penuh dan tiba saat ia harus menghadap kepada Allah s.w.t. di atas bukit Thur Sina NabiMusa merasa segan akan bermunajat dengan Tuhan nya dalam keadaan mulutnya berbau kurang sedap akibat puasanya. Maka ia menggosokkan giginya dan mengunyah daun-daunan dalam usahanya menghilangkan bau mulutnya. Ia ditegur oleh malaikat yang datang kepadanya atas perintah Allah s.w.t. . Berkatalah malaikat itu kepadanya: "Hai Musa, mengapakah engkau harus menggosokkan gigimu untuk menghilangkan bau mulutmu yang menurut anggapanmu kurang sedap, padahal bau mulutmu dan mulut orang-orang yang berpuasa bagi kami adalah lebih sedap dan lebih wangi dari baunya kasturi. Maka akibat tindakanmu itu, Allah memerintahkan kepadamu berpuasa lagi selama sepuluh hari sehingga menjadi lengkaplah masapuasamu sepanjang empat puluh hari."
Nabi Musa mengajak tujuh puluh orang yang telah dipilih diantara pengikutnya untuk menyertainya ke bukit Thur Sina dan mengangkat Nabi Harun sebagai wakilnya mengurus serta memimpin kaum yang ditinggalkan selama kepergiannya ke tempat bermunajat itu. Pada saat yang telah ditentukan tibalah Nabi Musa seorang diri di bukit Thur Sina mendahului tujuh puluh orangyang diajaknya turut serta. Dan ketika ia ditanya oleh Allah s.w.t. : "Mengapa engkau datang seorang diri mendahului kaummu, hai Musa?" Ia menjawab: "Mereka sedang menyusul di belakangku, wahai Tuhan ku. Aku cepat-cepatdatang lebih dahulu untuk mencapai redha- Mu ."
Berkatalah Musa dalam munajatnya dengan Allah s.w.t. : "Wahai Tuhan ku, nampakkanlahzat- Mu kepadaku, agar aku dapat melihat- Mu " Allah s.w.t. berfirman: " Engkau tidak akansanggup melihat- Ku , tetapi cubalah lihat bukit itu, jika ia tetap berdiri tegak di tempatnya sebagaimana sedia kala, maka nescaya engkau akan dapat melihat- Ku ." Lalu menolehlah Nabi Musa mengarahkan pandangannya kebukit yang dimaksudkan itu yang seketika itu juga dilihatnya hancur luluh masuk ke dalam perut bumi tanpa menghilangkan bekas. Maka terperanjatlah Nabi Musa, gementarlah seluruh tubuhnya dan jatuh pengsan.
Setelah ia sedar kembali dari pengsannya, bertasbih dan bertahmidlah ia seraya memohon ampun kepada Allah s.w.t. atas kelancangannya itu dan berkata:" Maha Besar lah Engkau wahai Tuhan ku, ampunilah aku dan terimalah taubatku dan aku akanmenjadi orang yang pertama beriman kepada- Mu ." Dalam kesempatan bermunajat itu, Allahs.w.t. menurunkan kepada Nabi Musa kitab suci " Taurat " berupa kepingan-kepingan batu-batu atau kepingan kayu menurut sementara ahli tafsir yang di dalamnya tertulis segala sesuatu secara terperinci dan jelas mengenai pedoman hidup yang diredhai oleh Allah s.w.t. .
Allah s.w.t. mengiring pemberian" Taurat " kepada Musa dengan firman- Nya : " Wahai Musa, sesungguhnya Aku telah memilih engkau lebih dari manusia-manusia yang lain dimasamu, untuk membawa risalah- Ku dan menyampaikan kepada hamba-hamba- Ku . Aku telah memberikan kepadamu keistimewaan dengan dapat bercakap-cakap langsung dengan Aku , maka bersyukurlah atas segala kurnia- Ku kepadamu dan berpegang teguhlah pada apa yang Aku tuturkan kepadamu. Dalam kitab yang Aku berikan kepadamu terhimpun tuntunan dan pengajaran yang akan membawa Bani Isra'il ke jalan yang benar, ke jalan yang akan membawa kebahagiaan dunia dan akhirat bagi mereka. Anjurkanlah kaummu Bani Isra'il agar mematuhi perintah-perintah- Ku jika mereka tidak ingin Aku tempatkan mereka di tempat-tempat orang-orangyang fasiq ."
Nabi Musa A.S. dan Bani Isra'il setelah keluar dari Mesir
Dalam perjalanan menuju Thur Sina setelah melintasi lautan di bahagian utara dari Laut Merah dan setelah mereka merasa amandari kejaran Fir'aun dan kaumnya.Bani Isra'il yang dipimpin oleh Nabi Musa itu melihat sekelompok orang-orang yang sedang menyembah berhala dengan tekunnya. Berkatalah mereka kepada Nabi Musa: "Wahai Musa, buatlah untuk kamu sebuah tuhan berhala sebagaimana mereka mempunyai berhala-berhala yang disembah sebagai tuhan." Musa menjawab:"Sesungguhnya kamu ini adalah orang-orang yang bodoh dan tidak berfikiran sihat. Persembahan mereka itu kepada berhala adalah perbuatan yang sesat dan bathil serta pasti akan dihancurkan oleh Allah s.w.t. . Patutkah aku mencari tuhan untuk kamu selain Allah s.w.t. yang telah memberikan kurnia kepada kamu, dengan menyelamatkan kamu dari Fir'aun,melepaskan kamu dari perhambaannya dan penindasannya serta memberikan kamu kelebihan di atas umat-umat yang lain. Sesungguhnya suatu permintaan yang aneh daripada kamu, bahawa kamu akan mencari tuhanselain Allah s.w.t. yang demikian besar nikmat Nya atas kamu, Allah s.w.t. pencipta langit dan bumi serta alam semesta. Allah s.w.t. yang baru saja kamu saksikan kekuasaan- Nya dengan ditenggelamkannya Fir'aun berserta bala tenteranya untuk keselamatan dan kelangsungan hidupmu."
Perjalanan Nabi Musa dan Bani Isra'il dilanjutkan ke Gurun Sinai dimana panas matahari sangat terik dan sunyi dari pohon-pohon atau bangunan di mana orang dapat berteduh di bawahnya. Atas permohonan Nabi Musa yangdidesak oleh kaumnya yang sedang kepanasan diturunkan oleh Allah s.w.t. di atas mereka awan yang tebal untuk mereka bernaung dan berteduh di bawahnya dari panas teriknya matahari. Di samping itu tatkala bekalan makanan dan minuman mereka sudah berkurangan dan tidak mencukupi keperluan Allah s.w.t. menurunkan hidangan makanan " manna " - sejenis makanan yang manis sebagai madu dan " salwa " - burung sebangsa puyuh dengan diiringi firman- Nya : " Makanlah Kami dari makanan-makanan yangbaik yang Kami telah turunkan bagimu ."
Demikian pula tatkala pengikut-pengikut Nabi Musa mengeluh kehabisan air untuk minum dan mandi di tempat yang tandus dankering itu, Allah s.w.t. mewahyukan kepada Musa agar memukul batu dengan tongkatnya. Lalu memancarlah dari batu yang dipukul itu dua belas mata air, untuk dua belas suku bangsa Isra'il yang mengikutiNabi Musa, masing-masing suku mengetahui sendiri dari mata air mana mereka mengambil keperluan airnya. Bani Isra'il pengikut Nabi Musa yang sangat manja itu, merasa masih belum cukup atas apa yang telah Allah s.w.t. berikan kepada mereka yang telah menyelamatkan mereka dari perhambaan dan penindasan Fir'aun, memberikan mereka hidangan makanan dan minuman yang lazat dan segar di tempat yang kering dan tandus mereka menuntut lagi dari Nabi Musa agar memohon kepada Allah s.w.t. menurunkan bagi mereka apa yang ditumbuhkan oleh bumi dari rupa-rupa sayur-mayur, seperti ketimun, bawang putih, kacang adas dan bawang merah kerana mereka tidak puas dengan satu macam makanan.
Oleh kerana tuntutan mereka yang aneh-aneh itu berkatalah Nabi Musa: "Mahukah kamu memperoleh sesuatu yang rendahnilai dan harganya sebagai pengganti dari apa yang lebih baik yang telah Allah s.w.t. kurniakan kepada kamu? Pergilahkamu ke suatu kota di mana pastikamu akan dapat apa yang telah kamu inginkan dan kamu minta."
Bani Isra'il Keluar Dari Mesir
Bani Isra'il yang cukup menderita akibat tindasan Fir'aun dan kaumnya cukup merasakan penganiayaan dan hidup dalam ketakutan di bawah pemerintahan Fir'aun yang kejam dan bengis itu, pada akhirnya sedar bahawa Musalah yang benar-benar dikirimkan oleh Allahs.w.t. untuk membebaskan mereka dari cengkaman Fir'aun dan kaumnya. Maka berduyun-duyunlah mereka datang kepada Nabi Musa memohon pertolongannya agar mengeluarkan mereka dari Mesir. Kemudian bertolaklah rombongan kaum Bani Isra'il di bawah pimpinan Nabi Musa meninggalkan Mesir menuju Baitul Maqdis. Dengan berjalan kaki dengan cepat kerana takut tertangkap oleh Fir'aun dan bala tenteranya yang mengejar mereka dari belakang akhirnya tibalah merekapada waktu fajar di tepi lautan merah setelah semalam suntuk dapat melewati padang pasir yang luas.
Rasa cemas dan takut makin mencekam hati para pengikut Nabi Musa dan Bani Isra'il ketika melihat laut terbentang di depan mereka sedang dari belakang mereka dikejar oleh Fir'aun dan bala tenteranya yang akan berusaha mengembalikan mereka ke Mesir. Mereka tidak meragukan lagi bahawa bila mereka tertangkap, maka hukuman matilah yang akan mereka terima dari Fir'aun yang zalim itu. Berkatalah salah seorang dari sahabat Nabi Musa, bernama Yusha' bin Nun: "Wahai Musa, ke mana kami harus pergi?"Musuh berada di belakang kami sedang mengejar dan laut beradadi depan kami yang tidak dapat dilintasi tanpa sampan. Apa yang harus kami perbuat untuk menyelamatkan diri dari kejaran Fir'aun dan kaumnya?"
Nabi Musa menjawab: "Janganlah kamu khuatir dan cemas, perjalanan kami telah diperintahkan oleh Allah kepadaku, dan Dia lah yang akan memberi jalan keluar serta menyelamatkan kami dari cengkaman musuh yang zalim itu."Pada saat yang kritis itu, di manapara pengikut Nabi Musa berdebar-debar ketakutan, seraya menanti tindakan Nabi Musa yang kelihatan tenang sahaja, turunlah wahyu Allah s.w.t. kepada Nabi - Nya dengan perintah agar memukulkan air laut dengan tongkatnya. Maka dengan izin Allah s.w.t. terbelah laut itu, tiap-tiap belahan merupakan seperti gunung yang besar. Di antara kedua belahan air laut itu terbentang dasar lautyang sudah mengering yang segera di bawah pimpinan Nabi Musa dilewatilah oleh kaum Bani Isra'il menuju ke tepi timurnya.
Setelah mereka sudah berada di bahagian tepi timur dalam keadaan selamat terlihatlah oleh mereka Fir'aun dan bala tenteranya menyusuri jalan yang sudah terbuka di antara dua belah gunung air itu. Kembali rasacemas dan takut mengganggu hati mereka seraya memandang kepada Nabi Musa seolah-olah bertanya apa yang hendak dia lakukan selanjutnya. Dalam pada itu Nabi Musa telah diilhamkan oleh Allah s.w.t. agar bertenang menanti Fir'aun dan bala tenteranya turun semua ke dasar laut kerana takdir Allah s.w.t. telah mendahului bahawa mereka akan menjadi bala tentera yang tenggelam.
Berkatalah Fir'aun kepada kaumnya tatkala melihat jalan terbuka bagi mereka di antara dua belah gunung air itu: "Lihat bagaimana lautan terbelah menjadi dua, memberi jalan kepada kami untuk mengejar orang-orang yang melarikan diri itu. Mereka mengira bahawa mereka akan dapat melepaskan dari kejaran dan hukumanku. Mereka tidak mengetahui bahawaperintahku berlaku dan ditaati oleh laut, jangan lagi oleh manusia. Tidakkah ini semuanya membuktikan bahawa aku adalah yang berkuasa yang harus disembah olehmu?" Maka dengan rasa bangga dan sikap sombongnya turunlah Fir'aun dan bala tenteranya ke dasar laut yang sudah mengering itu melakukan gerak-cepatnya untukmenyusul Musa dan Bani Isra'il yang sudah berada di tepi bahagian timur sambil menanti hukuman Allah s.w.t. yang telah ditakdirkan terhadap hamba- Nya yang kafir itu.
Demikianlah maka setelah Fir'aun dan bala tenteranya berada di tengah-tengah lautan yang membelah itu, jauh dari ke dua tepinya, tibalah perintah Allah s.w.t. dan kembalilah air yang menggunung itu menutupi jalur jalan yang terbuka di mana Fir'aun dengan sombongnya sedang memimpin barisan tenteranya mengejar Musa dan Bani Isra'il. Terpendamlah mereka hidup-hidup di dalam perut laut dan berakhirlah riwayat hidup Fir'aun dan kaumnya untuk menjadi kenangan sejarah dan ibrah bagi generasi akan datang.
Pada detik-detik akhir hayatnya, seraya berjuang untuk menyelamatkan diri dari maut yang sudah berada di depan matanya, berkatalah Fir'aun: "Akupercaya bahawa tiada tuhan selain Tuhan Musa dan Tuhan BaniIsra'il. Aku beriman pada Tuhan mereka dan berserah diri kepada- Nya sebagai salah seorang muslim."
Berfirmanlah Allah s.w.t. kepada Fir'aun yang sedang menghadapi sakaratul-maut: "Baru sekarangkah engkau berkata beriman kepada Musa dan berserah diri kepada- Ku ? Tidakkah kekuasaan ketuhananmu dapat menyelamatkan engkau dari maut? Baru sekarangkah engkau sedar dan percaya setelah sepanjang hidupmu bermaksiat, melakukan penindasan dan kezaliman terhadap hamba-hamba- Ku dan berbuat-sewenang-wenang, merosak akhlak danaqidah manusia-manusia yang berada di bawah kekuasaanmu. Terimalah sekarang pembalasan- Ku yang akan menjadi pengajaran bagi orang-orang yang akan datang sesudahmu. Akan Aku apungkan tubuh kasarmu untuk menjadi peringatan bagi orang-orang yang meragukan akan kekuasaan- Ku ."
Bani Isra'il pengikut-pengikut Nabi Musa masih meragukan kematian Fir'aun. Mrk masih terpengaruh dengan kenyataan yang ditanamkan oleh Fir'aun semasa iaberkuasa sebagai raja bahawa diaadalah manusia luar biasa lain daripada yang lain dan bahawa dia akan hidup kekal sebagai tuhan dan tidak akan mati. Khayalan yang masih melekat pada fikiran mereka menjadikan mereka tidak mahu percaya bahawa dengan tenggelamnya, Fir'aun sudah mati. Mereka menyatakan kepada Musa bahawa Fir'aun mungkin masih hidup namun di alam lain.
Nabi Musa berusaha menyakinkan kaumnya bahawa apa yang terfikir oleh mereka tentang Fir'aun adalah suatu khayalan belaka dan bahawa Fir'aun sebagai orang biasa telah mati tenggelam akibat pembalasan Allah s.w.t. atas perbuatannya, menentang kekuasaan Allah s.w.t. mendustakan Nabi Musa dan menindaskan serta memperhambakan Bani Isra'il. Dan setelah melihat dengan mata kepala sendiri, tubuh-tubuh Firaun dan orang-orangnya terapung-apung di permukaan air, hilanglah segala tahayul mereka tentang Fir'aun dan kesaktiannya.
Menurut catatan sejarah, bahawamayat Fir'aun yang terdampar di pantai diketemukan oleh orang-orang Mesir, lalu diawet hingga utuh sampai sekarang, sebagai mana dapat dilihat di muzium Mesir
Fir'aun menghina dan mengejek Musa
Selain tindakan kekerasan yang ditimpakan ke atas Bani Isra'il kaumnya Nabi Musa, Fir'aun melontarkan penghinaan dan kata-kata ejekan terhadap Nabi Musa dalam usahanya memerangi dan membendung pengaruh Nabi Musa yang semakin beertambah semenjak ia keluar sebagai pemenang dalam pertandingan melawan tukang-tukang sihir kaum Fir'aun.
Berkata Fir'aun kepada pembesar-pembesar kerajaannya:"Biarkanlah aku membunuh Musa dan biarlah ia memohon dari Tuhannya untuk melindunginya. Aku ingin tahu sampai sejauh mana ia dapat melepaskan diri dari kekuasaanku dan biarlah ia membuktikan kebenaran kata-kata, bahawa Tuhannya akan melindunginya dari segala tipu daya musuh-musuhnya."
Dalam lain kesempatan Fir'aun berkata kepada rakyatnya yang sudah diperhambakan jiwanya, terbiasa memuja-mujanya, mengiakan kata-katanya dan mengaminkan segala perintahnya:"Hai rakyatku! Tidakkah kamu melihat bahawa aku memiliki kerajaan Mesir yang megah dan besar ini di mana sungai-sungai mengalir dibawah telapak kakiku, sungai-sungai yang memberi kemakmuran hidup dan kebahagiaan hidup bagi rakyatku? Dan tidakkah kamu melihat kekuasaanku yang luas dan ketaatan rakyatku yang bulat kepadaku? Bukankah aku lebih baik dan lebih agung dari Musa yang hina-dina itu yang tidak cekap menguraikan isi hatinya dan menerangkan maksudtujuannya. Mengapa Tuhannya tidak memakaikan gelang emas, sebagaimana lazimnya orang-orang yang diangkat menjadi raja, pemimpin atau pembesar? Atau mengapa ia tidak diiringi olehmalaikat-malaikat sebagai tanda kebesarannya dan bukti kebenarannya bahwa ia adalah pesuruh Tuhannya?"
Kelompok orang yang mendengar kata-kata Fir'aun itu dengan serta-merta mengiyakan dan membenarkan kata-kata rajanya serta menyatakan kepatuhan yang bulat kepada segala titah dan perintahnya sebagai warga yang setia kepada rajanya, namun zalim dan fasiq terhadap Tuhannya. Dalam pada itu kesabaran Nabi Musa sampai padapuncaknya, melihat Fir'aun dan pembantu-pambantunya tetap berkeras kepala menentang dakwahnya, mendustakan risalahnya dan makin memperhebatkan tindakan kejamnya terhadap kaum Bani Isra'il terutama para pengikutnya yang menyembunyikan imannya kerana ketakutan daripada kejaran Fir'aun dan pembalasannya yang kejam dan tidak berperikemanusiaan. Maka disampaikan oleh Nabi Musa kepada mereka bahawa Allah s.w.t. tidak akan membiarkan mereka terus-menerus melakukankekejaman, kezaliman dan penindasan terhadap hamba- Nya dan berkufur kepada Allah dan Rasul - Nya . Akan ditimpakan oleh Allah s.w.t. kepada mereka bila tetap tidak mahu sedar dan beriman kepada- Nya , bermacam azab dan seksa di dunia semasa hidup mereka sebagai pembalasanyang nyata!
Berdoalah Nabi Musa, memohon kepada Allah s.w.t. : "Ya Tuhan kami, Engkau telah memberi kepada Fir'aun dan kaum kerabatnya kemewahan hidup, harta kekayaan yang meluap-luapdan kenikmatan duniawi, yang kesemua itu mengakibatkan mereka menyesatkan manusia, hamba-hamba- Mu , dari jalan yang Engkau redhai dan tuntunan yang Engkau berikan. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta-benda mereka dan kunci matilah hati mereka. Mereka tidakakan beriman dan kembali kepadajalan yang benar sebelum melihat seksaan- Mu yang pedih."
Berkat doa Nabi Musa dan permohonannya yang diperkenankan oleh Allah s.w.t. ,maka dilandakanlah kerajaan Fir'aun oleh krisis kewangan dan makanan, yang disebabkan mengeringnya sungai Nil sehingga tidak dapat mengairi sawah-sawah dan ladang-ladang disamping serangan hama yang ganas yang telah menghabiskan padi dan gandum yang sudah menguning dan siap untuk diketam. Belum lagi krisis kewangan dan makanan diatasi datang menyusul bala banjir yangbesar disebabkan oleh hujan yangturun dengan derasnya, sehinggamenghanyutkan rumah-rumah, gedung-gedung dan membinasakan binatang ternak. Dan sebagai akibat dari banjir itu berjangkitlah bermacam-macam wabak dan penyakit yang merisaukan masyarakat seperti hidung berdarah dan lain-lain. Kemudian datanglah barisan kutu-kutu busuk dan katak-katak yang menyerbu ke dalam rumah-rumah sehingga mengganggu ketenteraman hidup mereka,menghilangkan kenikmatan makan, minum dan tidur, disebabkan menyusupnya binatang-binatang itu ke dalam tempat-tempat tidur, hidangan makanan dan di antara sela-sela pakaian mereka.
Pada waktu azab menimpa dan bencana-bencana itu sedang melanda berdatanglah mereka kepada Nabi Musa minta pertolongannya, demi kenabiannya, agar memohonkan kepada Allah s.w.t. mengangkat bala itu dari atas mereka dengan perjanjian bahawa mereka akan beriman dan menyerahkan Bani Isra'il kepada Nabi Musa sekirannya mereka dapat ditolongdan terhindar dari azab bala itu. Akan tetapi apabila bala-bala itu tercabut dari atas mrk dan hilanglah gangguan yang diakibatkan olehnya, mereka mengingkari janji mereka dan kembali bersikap memusuhi dan menentang Nabi Musa, seolah-olahapa yang terjadi bukanlah keranadoa dan permohonan Musa kepada Allah s.w.t. tetapi kerana hasil usaha mereka sendiri.
persembahan dari rakyatnya sebagai tuhan segera membelalakkan matanya tanda marah dan jengkel melihat ahli-ahli sihirnya begitu cepat menyerah kalah kepada Musa bahkan menyatakan beriman kepada Tuhan nya dan kepada kenabiannya serta menjadi pengikut-pengikutnya. Tindakan mereka itu dianggapnya sebagai pelanggaran terhadap kekuasaannya, penentangan terhadap ketuhanannya dan merupakan suatu tamparan bagi kewibawaan serta prestasinya. Ia berkata kepada mereka: "Adakah kamu berani beriman kepada Musa dan menyerah kepada keputusannya sebelum aku izinkan kepada kamu? Bukankah ini suatu persekongkolan daripadakamu terhadapku? Musa dapat mengalah kamu sebab ia mungkin guru dan pembesar yang telah mengajarkan seni sihir kepadamu dan kamu telah mengatur bersama-samanya tindakan yang kamu sandiwarakan di depanku hari ini. Aku tidak akan tinggal diam menghadapi tindakan kianatmu ini. Akanku potong tangan-tangan dan kaki-kakimu serta akanku salibkan kamu semua pada pangkal pohon kurmasebagai hukuman dan balasan bagi tindakan kianatmu ini."
Ancaman Fir'aun itu disambut mereka dengan sikap dingin dan acuh tak acuh. Allah s.w.t. telah membuka mata hati mereka dengan cahaya iman sehingga tidak akan terpengaruh dengan kata-kata kebathilan yang menyesatkan atau ancaman Fir'aun yang menakutkan. Merekasebagai-orang-orang yang ahli dalam ilmu dan seni sihir dapat membedakan yang mana satu sihir dan yang mana bukan. Maka sekali mereka diyakinkan dengan mukjizat Nabi Musa yang membuktikan kebenaran kenabiannya tidaklah keyakinan itu akan dapat digoyahkan oleh ancaman apa pun. Berkata mereka kepada Fir'aun menanggapi ancamannya: "Kami telah mendapat bukti-bukti yang nyata dan kami tidak akan mengabaikan kenyataan itu sekadar memenuhi kehendak dan keinginanmu. Kami akan berjalan terus mengikut jejak dan tuntutan Musa dan Harun sebagaipesuruh oleh yang benar. Maka terserah kepadamu untuk memutuskan apa yang engkau hendak putuskan terhadap diri kami. Keputusan kamu hanya berlaku di dunia ini sedang kami mengharapkan pahala Allah s.w.t. di akhirat yang kekal dan abadi."
Musa A.S. pulang ke Mesir dan menerima Wahyu
Sepuluh tahun lebih Musa meninggalkan Mesir tanah airnya, sejak ia melarikan diri dari buruankaum Fir'aun. Suatu waktu yang cukup lama bagi seseorang dapat bertahan menyimpan rasa rindunya kepada tanah air, tempat tumpah darahnya , walaupun ia tidak pernah merasakan kebahagiaan hidup di dalam tanah airnya sendiri. Apa lagi seorang seperti Musa yang mempunyai kenang-kenangan hidup yang seronok dan indah selama ia berada di tanah airnya sendiri selaku seorang dari keluarga kerajaan yang megah dan mewah, maka wajarlah bila ia merindukan Mesir tanah tumpah darahnya dan ingin pulang kembalisetelah ia beristerikan Shafura, puteri Syu'aib.
Bergegas-gegaslah Musa bersertaisterinya mengemaskan barang dan menyediakan kenderaan lalu meminta diri dari orang tuanya dan bertolaklah menuju ke selatan menghindari jalan umum supaya tidak diketahui oleh orang-orang Fir'aun yang masih mencarinya. Setibanya di "Thur Sina" tersesatlah Musa kehilanganpedoman dan bingung manakah yang harus ia tempuh. Dalam keadaan demikian terlihatlah oleh dia sinar api yang nyala-nyala di atas lereng sebuah bukit. Ia berhenti lalu lari ke jurusan api itu seraya berkata kepada isterinya: "Tinggallah kamu disini menantiku. Aku pergi melihat api yang menyala di atas bukit itu dan segera aku kembali. Mudah-mudahan aku dapat membawa satu berita kepadamu dari tempat api itu atau setidak-tidaknya membawa sesuluh api bagi menghangatkan badanmu yang sedang menggigil kesejukan."
Tatkala Musa sampai ke tempat api itu terdengar oleh dia suara seruan kepadanya datang dari sebatang pohon kayu di pinggir lembah yang sebelah kanannya pada tempat yang diberkati Allahs.w.t. Suara seruan yang didengar oleh Musa itu ialah: "Wahai Musa! Aku ini adalah Tuhan mu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu. Sesungguhnya kamu berada di lembah yangsuci Thuwa. Dan aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akandiwahyukan kepadamu. Sesungguhnya aku ini adalah Allah tiada Tuhan selain Aku , maka sembahlah Aku dan dirikanlah solat untuk mengingat akan Aku ."
Itulah wahyu yang pertama yang diterima langsung oleh Nabi Musa sebagai tanda kenabiannya, di mana ia telah dinyatakan oleh Allah s.w.t. sebagai rasul dan nabi- Nya yang dipilih Nabi Musa dalam kesempatan bercakap langsung dengan Allah s.w.t. di atas bukit Thur Sina itu telah diberi bekal oleh Allah s.w.t. yang Maha Kuasa dua jenis mukjizat sebagai persiapan untuk menghadap kaum Fir'aun yang sombong dan zalim itu. Bertanyalah Allah s.w.t. kepada Musa: "Apakah itu yang engkau pegang dengan tangan kananmu hai Musa?" Suatu pertanyaan yang mengandungi erti yang lebih dalam dari apa yang sepintas lalu dapat ditangkap oleh Nabi Musa dengan jawapannya yang sederhana. "Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya dan aku pukul daun dengannya untuk makanan kambingku. Selain itu aku dapat pula menggunakan tongkatku untuk keperluan lain yang penting bagiku."
Maksud dan erti dari pertanyaan Allah s.w.t. yang nampak sederhana itu baru dimengertikandan diselami oleh Musa setelah Allah s.w.t. memerintahkan kepadanya agar meletakkan tongkat itu di atas tanah, lalu menjelmalah menjadi seekor ular besar yang merayap dengan cepat sehingga menjadikan Musa lari ketakutan. Allah s.w.t. berseru kepadanya: "Peganglah ular itu dan jangan takut. Kami akan mengembalikannyakepada keadaan asal." Maka begitu ular yang sedang merayapitu ditangkap dan dipegang oleh Musa, ia segera kembali menjadi tongkat yang ia terima dari Syu'aib, mertuanya ketika ia bertolak dari Madyan. Sebagai mukjizat yang kedua, Allah s.w.t. memerintahkan kepada Musa agar mengepitkan tangannya ke ketiaknya yang nyata setelah dilakukannya perintah itu, tangannya menjadi putih cemerlang tanpa cacat atau penyakit.
Nabi Musa yang telah mengalahkan ahli-ahli sihir dengankedua mukjizatnya makin meluas pengaruhnya, sedang Fir'aun dengan kekalahan ahli sihirnya merasa kewibawaannya merosot dan kehormatannya menurun. Ia khuatir jika gerakan Musa tidak segera dipatahkan akan mengancam keselamatan kerajaannya serta kekekalan mahkotanya. Para penasihat dan pembantu-pembantu terdekatnyatidak berusaha menghilangkan rasa kecemasan dan kekhuatirannya, tetapi mereka sebaliknya makin membakar dadanya dan makin menakutinya. Mereka berkata kepadanya:"Apakah engkau akan terus membiarkan Musa dan kaumnya bergerak secara bebas dan meracuni rakyat dengan macam-macam kepercayaan dan ajaran-ajaran yang menyimpang dari apayang telah kita warisi dari nenek-moyang kita? Tidakkah engkau sedar bahawa rakyat kita makin lama makin terpengaruh oleh hasutan Musa sehingga lama-kelamaan nescaya kita dan tuhan-tuhan kita akan ditinggalkan oleh rakyat kita dan pada akhirnya akan hancur binasalah negara dan kerajaanmuyang megah ini."
Fir'aun menjawab: "Apa yang kamuhuraikan itu sudah menjadi perhatianku sejak dikalahkannya ahli-ahli sihir kita oleh Musa. Dan memang kalau kita membiarkan Musa terus melebarkan sayapnyadan meluaskan pengaruhnya di kalangan pengikutnya yang makinlama makin bertambah jumlahnya,pasti pada akhirnya akan merosakkan adab hidup masyarakat negara kita serta membawa kehancuran dan kebinasaan bagi kerajaan kita yang megah ini, kerananya aku telah merancang akan bertindak terhadap Bani Isra'il dengan membunuh setiap orang lelaki danhanya wanita sahaja akanku biarkan hidup."
Rancangan jahat Fir'aun diterapkan oleh pegawai dan kakitangan kerajaannya. Aneka ragam gangguan dan macam-macam tindakan kejam ditimpakanatas Bani Isra'il yang memang menurut anggapan masyarakat. Dengan makin meningkatnya kezaliman dan penindasan yang mereka terima dari alat-alat kerajaan Fir'aun, datanglah Bani Isra'il kepada Nabi Musa, mengharapkan pertolongan dan perlindungannya. Nabi Musa tidak dapat berbuat banyak pada masaitu bagi Bani Isra'il yang tertindas dan teraniaya. Ia hanya menenteramkan hati mereka, bahawa akan tiba saatnya kelak,di mana mereka akan dibebaskan oleh Allah s.w.t. dari segala penderitaan yang mereka alami. Dianjurkan oleh Nabi Musa agar mereka bersabar dan bertawakkal seraya memohon kepada Allah s.w.t. agar Allah s.w.t. memberikan pertolongan dan perlindungan- Nya kerana Allah s.w.t. telah menjanjikan akan mewariskan bumi- Nya kepada hamba-hamba- Nya yang soleh, sabar dan bertakwa!
Fir'aun bertujuan melemahkan kedudukan Nabi Musa dengan tindakan kejamnya terhadap BaniIsra'il yang merupakan kaumnya, bahkan tulang belakang Nabi Nusa. Akan tetapi gerak dakwah Nabi Musa tidak sedikit pun terhambat oleh tindakan Fir'aun itu. Demikian pula tidak seorang pun daripada pengikut-pengikutnya yang terpengaruh dengan tindakan Fir'aun itu. Sehingga tidak menjadi luntur iman dan keyakinan mereka yang sudah bulat terhadap risalah Musa. Kerana sasaran yang ditujudengan tindakan kekejaman yangtidak berperikamanusiaan itu tidak tercapai dan tidak dapat menerima dakwah Nabi Musa dan para pengikutnya, yang dilhatnyabahkan semakin bersemangat menyiarkan ajaran iman dan tauhid, maka Fir'aun tidak mempunyai pilihan selain harus menyingkirkan orang yang menjadi pengikutnya, iaitu denganmembunuh Nabi Musa.
Fir'aun memanggil para penasihat dan pembesar-pembesar kerajaannya untuk bermesyuaratdan merancang pembunuhan Musa. Di antara mereka yang di undang itu terdapat seorang mukmin dari keluarga Fir'aun yangmerahsiakan imannya.
Di tengah-tengah perdebatan danperundingan yang berlangsung dalam pertemuan yang diadakan oleh Fir'aun untuk membincangkancara pembunuhan Nabi Musa itu, bangkitlah berdiri mukmin itu mengucapkan pembelaannya terhadap Nabi Musa dan nasihat serta tuntunan bagi mereka yanghadir. Ia berkata: "Apakah kamu akan membunuh seseorang lelaki yang tidak berdosa, hanya berkata bahawa Allah s.w.t. adalah Tuhannya? Padahal ia menyatakan iman dan kepercayaannya itu kepada kamubukan tanpa dalil dan hujjah. Ia telah mempertunjukkan kepada kamu bukti-bukti yang nyata untuk menyakinkan kamu akan kebenaran ajarannya. Jika andainya dia seorang pendusta, maka dia sendirilah yang akan menanggung dosa akibat dustanya. Namun jika ia adalah benar dalam kata-katanya, maka nescaya akan menimpa kepada kamu bencana azab yang telah dijanjikan oleh Nya . Dan dalam keadaan yang demikian siapakah yang akan menolong kamu dari azab Allah s.w.t. yang telah dijanjikan itu?"
Fir'aun memotong pidato orang mukmin itu dengan berkata:"Rancanganku harus terlaksana dan Musa harus dibunuh. Aku tidak menemukan kepadamu melainkan apa yang aku pandang baik dan aku tidak menunjukkan kepadamu melainkan jalan yang benar, jalan yang akan menyelamatkan kerajaan dan negara." Berucap orang mukmin dari keluarga Fir'aun itu melanjutkan: "Sesungguhnya aku khuatir, jika kamu tetap berkeraskepala dan enggan menempuh jalan yang benar yang dibawa oleh para nabi-nabi, bahawa kamuakan ditimpa azab dan seksa yang membinasakan, sebagaimanatelah dialami oleh kaum Nuh, kaumAad, kaum Tsamud dan umat-umat yang datang sesudah mereka. Apa yang telah dialami oleh kaum-kaum itu adalah akibatkecongkakan dan kesombongan mereka kerana Allah s.w.t. tidakmenghendaki berbuat kezaliman terhadap hamba-hamba- Nya ".
Mukmin itu meneruskan nasihatnya: "Wahai kaumku! Sesungguhnya aku khuatir kamu akan menerima seksa dan azab Tuhan di hari qiamat kelak, di mana kamu akan berpaling kebelakang, tidak seorang pun akan dapat menyelamatkan kamuitu dari seksa Allah s.w.t. . Hai kaum ikutilah nasihatku, aku hanya ingin kebaikan bagimu dan mengajak kamu ke jalan yang benar. Ketahuilah bahawa kehidupan di dunia ini hanya merupakan kesenangan sementara, sedangkan kesenangan dan kebahagiaan yang kekal adalah di akhirat kelak."
Orang mukmin dari keluarga Fir'aun itu tidak dapat mengubah sikap Fir'aun dan pengikut-pemgikutnya, walaupun ia telah berusaha dengan menggunakan kecekapan berpidatonya dan susunan kata-katanya yang rapi, lengkap dengan contoh-contoh dari sejarah umat-umat yang terdahulu yang telah dibinasakan oleh Allah s.w.t. kerana perbuatan dan pembangkangan mereka sendiri. Fir'aun dan pengikut-pengikutnya bahkan menganjurkan kepada orang mukmin itu, agar meninggalkan sikapnya yang membela Musa danmenyetujui rancangan jahat mereka. Ia dinasihat untuk melepaskan pendiriannya yang pro Musa dan mengabungkan diri dalam barisan mereka menentangMusa dan segala ajarannya. Ia diancam dengan dikenakan tindakan kekerasan bila ia tidak mahu mengubah sikap pro kepadaMusa secara suka rela.
Berkata orang mukmin itu menanggapi anjuran Fir'aun:"Wahai kaumku, sangat aneh sekali sikap dan pendirianmu, aku berseru kepada kamu untuk kebaikan dan keselamatanmu, kamu berseru kepadaku untuk berkufur kepada Allah s.w.t. danmempersekutukan- Nya dengan apa yang aku tidak ketahui, sedang aku berseru kepadamu untuk beriman kepada Allah s.w.t. , Tuhan Yang Maha Esa,Maha Perkasa, lagi Maha Pengampun . Sudah pasti dan tidak dapat diragukan lagi, bahawa apa yang kamu serukan kepadaku itu tidak akan menolongku dari murka dan seksa Allah s.w.t. di dunia mahupun di akhirat. Dan sesungguhnya kamu sekalian akan kembali kepada Allah s.w.t. yang akan memberi pahala syurga bagi orang-orang yang soleh, bertakwa dan beriman, sedang orang-orang kafir yang telah melampaui batas akan diberi ganjaran dengan api neraka. Hai kaumku perhatikanlahnasihat dan peringatanku ini. Kamu akan menyedari kebenaran kata-kataku ini kelak bila sudah tidak berguna lagi orang menyesal atau merasa susah kerana perbuatan yang telah dilakukan. Aku hanya menyerahkan urusan ku dan nasibku kepada Allah s.w.t. . Dia lah Yang Maha Mengetahui dan Maha Melihat perbuatan dan kelakuan hamba-hamba- Nya ."
Musa diperintahkan berdakwah kepada Fir'aun
Raja Fir'aun yang telah berkuasa di Mesir telah lama menjalankan pemerintahan yang zalim, kejam dan ganas. Rakyatnya yang terdiri dari bangsa Egypt yang merupakan penduduk peribumi dan bangsa Isra'il yang merupakan golongan pendatang, hidup dalam suasana penindasan, tidak merasa aman bagi nyawa dan harta bendanya. Tindakan sewenang-wenang dan pihak penguasa pemerintahan terutamanya ditujukan kepada Bani Isra'il yang tidak diberinya kesempatan hidup tenang dan tenteram. Mereka dikenakan kerja paksa dan diharuskan membayar berbagai pungutan yang tidak dikenakan terhadap penduduk bangsa Egypt, bangsa Fir'aun sendiri.
Selain kezaliman, kekejaman, penindasan dan pemerasan yang ditimpakan oleh Fir'aun atas rakyatnya, terutama kaum Bani Isra'il. ia menyatakan dirinya sebagai tuhan yang harus disembah dan dipuja, dan dengan demikian ia makin jauh membawa rakyatnya ke jalan yang sesat tanpa pedoman tauhid dan iman, sehingga makin dalamlah mereka terjerumus ke lembah kemaksiatan dan kerosakan moraldan akhlak. Maka dalam kesempatan bercakap-cakap langsung di bukit Thur Sina itu diperintahkanlah Musa oleh Allah s.w.t. untuk pergi ke Fir'aun sebagai Rasul- Nya , mengajakkanberiman kepada Allah s.w.t. , menyedarkan dirinya bahawa ia adalah makhluk Allah s.w.t. sebagaimana lain-lain rakyatnya, yang tidak sepatutnya menuntut orang menyembahnya sebagi tuhan dan bahawa Tuhan yang wajib disembah olehnya dan oleh semua manusia adalah Tuhan Yang Maha Esa yang telah menciptakan alam semesta ini.
Nabi Musa dalam perjalanannya menuju kota Mesir setelah meninggalkan Madyan, selalu dibayang oleh ketakutan kalau-kalau peristiwa pembunuhan yangtelah dilakukan sepuluh tahun yang lalu itu, belum dilupakan danmasih belum hilang dari ingatan para pembesar kerajaan Fir'aun. Ia tidak mengabaikan kemungkinan bahawa mereka akan melakukan pembalasan terhadap perbuatan yang ia tidaksengaja itu dengan hukuman pembunuhan atas dirinya bila ia sudah berada di tengah-tengah mereka. Ia hanya terdorong rasa rindunya yang sangat kepada tanah tumpah darahnya dengan memberanikan diri kembali ke Mesir tanpa memperdulikan akibatyang mungkin akan dihadapi.
Jika pada waktu bertolak dari Madyan dan selama perjalannya ke Thur Sina. Nabi Musa dibayangidengan rasa takut akan pembalasan Fir'aun, Maka dengan perintah Allah s.w.t. yang berfirman maksudnya :~ "Pergilah engkau ke Fir'aun, sesungguhnya ia telah melampaui batas . Segala bayangan itu dilempar jauh-jauh dari fikirannya dan bertekad akan melaksanakan perintah Allah s.w.t. menghadapi Fir'aun apa pun akan terjadi pada dirinya. Hanya untuk menenterankan hatinya berucaplah Musa kepada Allah s.w.t. : "Aku telah membunuh seorang daripada mereka, maka aku khuatir mereka akan membalas membunuhku, berikanlah seorang pembantu darikeluargaku sendiri, iaitu saudaraku Harun untuk menyertaiku dalam melakukan tugasku meneguhkan hatiku dan menguatkan tekadku menghadapiorang-orang kafir itu apalagi Harun saudaraku itu lebih petah {lancar} lidahnya dan lebih cekap daripada diriku untuk berdebat dan bermujadalah."
Allah s.w.t. berkenan mengabulkan permohonan Musa, maka digerakkanlah hati Harun yang ketika itu masih berada di Mesir untuk pergi menemui Musa mendampinginya dan bersama-sama pergilah mereka ke istana Fir'aun dengan diiringi firman Allah s.w.t. : "Janganlah kamuberdua takut dan khuatir akan diseksa oleh Fir'aun. Aku menyertai kamu berdua dan Aku mendengar serta melihat dan mengetahui apa yang akan terjadi antara kamu dan Fir'aun. Berdakwahlah kamu kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut sedarkanlah ia dengan kesesatannya dan ajaklah ia beriman dan bertauhid, meninggalkan kezalimannya dan kecongkakannya kalau-kalaudengan sikap yang lemah lembut daripada kamu berdua ia akan ingat pada kesesatan dirinya dan takutakan akibat kesombongan dan kebongkakannya."
Penjelasan nabi musa
Musa ( bahasa Ibrani : מֹשֶׁה , Standar Mošé Tiberias Mōšeh ; bahasa Arab : موسى , Mūsā ; bahasa Ge'ez : ሙሴ Musse ) (lahir ~ 1527 SM , meninggal ~ 1408 SM ) adalah seorang nabi yang menyampaikan Hukum Taurat dan menuliskannya dalam Pentateveh / Pentateukh (Lima Kitab Taurat) dalam Alkitab Ibrani atau Perjanjian Lama di Alkitab Kristen . Musa adalah anak Amram bin Kehat dari suku Lewi , anak Yakub bin Ishak . Ia diangkat menjadi nabisekitar tahun 1450 SM. Ia ditugaskan untuk membawa Bani Israil ( Israel ) keluar dari Mesir. Namanya disebutkan sebanyak 873 kali dalam 803 ayat dalam 31 buku di Alkitab Terjemahan Baru [10] dan 136 kali di dalam Al-Quran. Ia memiliki 2 orang anak ( Gersom dan Eliezer ) dan wafat diTanah Tih (Gunung Nebo).
bertindak sewenang-wenangnya dari raja dan orang-orangnya. Mereka merasa tidak tenteram dan selalu dalam keadaan gelisah, walau pun berada dalam rumah mereka sendiri. Mereka tidak berani mengangkat kepala bila berhadapan dengan seorang hamba raja dan berdebar hati mereka kerana ketakutan bila kedengaran suara pegawai-pegawai kerajaan lalu di sekitar rumah mereka, apalagi bunyi kasut mereka sudah terdengar didepan pintu.
Raja Fir'aun yang sedang mabuk kuasa yang tidak terbatas itu, bergelimpangan dalam kenikmatandan kesenangan duniawi yang tiada taranya, bahkan mengumumkan dirinya sebagai tuhan yang harus disembah oleh rakyatnya.
Pada suatu hari beliau telah terkejut oleh ramalan oleh seorang ahli nujum kerajaan yangdengan tiba-tiba datang menghadap raja dan memberitahubahawa menurut firasat falaknya,seorang bayi lelaki akan dilahirkandari kalangan Bani Isra'il yang kelak akan menjadi musuh kerajaan dan bahkan akan membinasakannya. Raja Fir'aun segera mengeluarkan perintah agar semua bayi lelaki yang dilahirkan di dalam lingkungan kerajaan Mesir dibunuh dan agar diadakan penyiasatan yang teliti sehingga tiada seorang pun dari bayi lelaki, tanpa terkecuali, terhindar dari tindakan itu. Maka dilaksanakanlah perintah raja olehpara pengawal dan tenteranya. Setiap rumah dimasuki dan diselidiki dan setiap perempuan hamil menjadi perhatian mereka pada saat melahirkan bayinya. Raja Fir'aun menjadi tenang kembali dan merasa aman tentang kekebalan kerajaannya setelah mendengar para anggota kerajaannya, bahawa wilayah kerajaannya telah menjadi bersih dan tidak seorang pun dari bayi laki-laki yang masih hidup. Ia tidakmengetahui bahawa kehendak Allah s.w.t. tidak dapat dibendung dan bahawa takdirnya bila sudah difirman " Kun " pasti akan wujud dan menjadi kenyataan " Fayakun ". Tidak suatu kekuasaan bagaimana pun besarnya dan kekuatan serta bagaimana hebatnya dapat menghalangi atau menggagalkannya.
Raja Fir'aun sesekali tidak terlintas dalam fikirannya yang kejam dan zalim itu bahawa kerajaannya yang megah, menurut apa yang telah tersirat dalam Lauhul Mahfudz, akan ditumbangkan oleh seorang bayi yang justeru diasuh dan dibesarkan di dalam istananya sendiri akan diwarisi kelak oleh umat Bani Isra'il yang dimusuhi, dihina, ditindas dan disekat kebebasannya. Bayi asuhnya itu ialah laksana bunga mawar yang tumbuh di antara duri-duri yang tajam atau laksana fajar yang timbul menyingsing dari tengah kegelapan yang mencengkam.
Yukabad, isteri Imron bin Qahat bin Lawi bin Ya'qub sedang duduk seorang diri di salah satu sudut rumahnya menanti datangnya seorang bidan yang akan memberipertolongan kepadanya melahirkan bayi dari dalam kandungannya itu.
Bidan datagn dan lahirlah bayi yang telah dikandungnya selama sembilan bulan dalam keadaan selamat, segar dan sihat afiat. Dengan lahirnya bayi itu, maka hilanglah rasa sakit yang luar biasa dirasai oleh setiap perempuan yang melahirkan namun setelah diketahui oleh Yukabad bahawa bayinya adalah lelaki maka ia merasa takut kembali. Ia merasa sedih dan khuatir bahawa bayinya yang sangat disayangi itu akan dibunuholeh orang-orang Fir'aun. Ia mengharapkan agar bidan itu merahsiakan kelahiran bayi itu dari sesiapa pun. Bidan yang merasa simpati terhadap bayi yang lucu dan bagus itu serta merasa betapa sedih hati seorangibu yang akan kehilangan bayi yang baru dilahirkan memberi kesanggupan dan berjanji akan merahsiakan kelahiran bayi itu.
Setelah bayi mencapai tiga bulan, Yukabad tidak merasa tenang dan selalu berada dalam keadaan cemas dan khuatir terhadap keselamatan bayinya. Allah s.w.t. memberi ilham kepadanya agar menyembunyikan bayinya di dalamsebuah peti yang tertutup rapat,kemudian membiarkan peti yang berisi bayinya itu terapung di atas sungai Nil. Yukabad tidak boleh bersedih dan cemas ke ataskeselamatan bayinya kerana Allah s.w.t. menjamin akan mengembalikan bayi itu kepadanya bahkan akan mengutuskannya sebagai salah seorang rasul.
Dengan bertawakkal kepada Allah s.w.t. dan kepercayaan penuh terhadap jaminan Illahi , maka dilepaskannya peti bayi olehYukabad, setelah ditutup rapat dan dicat dengan warna hitam, terapung dipermukaan air sungai Nil. Kakak Musa diperintahkan olehibunya untuk mengawasi dan mengikuti peti rahsia itu agar diketahui di mana ia berlabuh danditangan siapa akan jatuh peti yang mengandungi erti yang sangat besar bagi perjalanan sejarah umat manusia. Alangkah cemasnya hati kakak Musa, ketika melihat dari jauh bahawa peti yang diawasi itu, dijumpai oleh puteri raja yang kebetulan berada di tepi sungai Nil bersantaibersama beberapa dayangnya dan dibawanya masuk ke dalam istana dan diserahkan kepada ibunya, isteri Fir'aun. Yukabad yang segera diberitahu oleh anakperempuannya tentang nasib petiitu, menjadi kosonglah hatinya kerana sedih dan cepat serta hampir saja membuka rahsia peti itu, andai kata Allah s.w.t. tidak meneguhkan hatinya dan menguatkan hatinya kepada jaminan Allah s.w.t. yang telah diberikan kepadanya.
Raja Fir'aun ketika diberitahu olehAisah, isterinya, tentang bayi laki-laki yang ditemui di dalam petiyang terapung di atas permukaansungai Nil, segera memerintahkan membunuh bayi itu seraya berkata kepada isterinya: "Aku khuatir bahawa inilah bayi yang diramalkan, yang akan menjadi musuh dan penyebab kesedihan kami dan akan membinasakan kerajaan kami yang besar ini." Akan tetapi isteri Fir'aun yang sudah terlanjur menaruh simpati dan sayang terhadap bayi yang lucu dan manis itu, berkata kepada suaminya: "Janganlah bayiyang tidak berdosa ini dibunuh. Aku sayang kepadanya dan lebih baik kami ambil dia sebagai anak, kalau-kalau kelak ia akan berguna dan bermanfaat bagi kami. Hatiku sangat tertarik kepadanya dan ia akan menjadi kesayanganku dan kesayangmu". Demikianlah jika Allah Yang Maha Kuasa menghendaki sesuatu maka dilincinkanlah jalan bagi terlaksananya takdir itu. Danselamatlah nyawa putera Yukabad yang telah ditakdirkan oleh Allah s.w.t. untuk menjadi rasul- Nya , menyampaikan amanat wahyu- Nya kepada hamba-hamba- Nya yang sudah sesat.
Nama Musa yang telah diberikan kepada bayi itu oleh keluarga Fir'aun, bererti air dan pohon {Mu= air , Sa = pohon} sesuai dengan tempat ditemukannya peti bayi itu. Didatangkanlah kemudian ke istana beberapa inang untuk menjadi ibu susuan Musa. Akan tetapi setiap inang yang mencubadan memberi air susunya ditolak oleh bayi yang enggan menyedut dari setiap tetek yang diletakkanke bibirnya. Dalam keadaan isteri Fir'aun lagi bingung memikirkan bayi pungutnya yang enggan menetek dari sekian banyak inangyang didatangkan ke istana, datanglah kakak Musa menawarkan seorang inang lain yang mungkin diterima oleh bayi itu.
Atas pertanyaan keluarga Fir'aun,kalau-kalau ia mengenal keluarga bayi itu, berkatalah kakak Musa:"Aku tidak mengenal siapakah keluarga dan ibu bayi ini. Hanya aku ingin menunjukkan satu keluarga yang baik dan selalu rajin mengasuh anak, kalau-kalau bayi itu dapat menerima air susu ibu keluarga itu". Anjuran kakak Musa diterima oleh isteri Fir'aun dan seketika itu jugalah dijemput ibu kandung Musa sebagai inang bayaran. Maka begitu bibir sang bayi menyentuh tetek ibunya, disedutlah air susu ibu kandungnya itu dengan sangat lahapnya. Kemudian diserahkan Musa kepada Yukabad ibunya, untuk diasuh selama masa menetek dengan imbalan upah yang besar. Maka dengan demikian terlaksanalah janji Allahs.w.t. kepada Yukabad bahawa iaakan menerima kembali puteranyaitu.
Setelah selesai masa meneteknya,dikembalikan Musa oleh ibunya ke istana, di mana ia di asuh, dibesardan dididik sebagaimana anak-anak raja yang lain. Ia mengenderai kenderaan Fir'aun dan berpakaian sesuai dengan cara-cara Fir'aun berpakaian sehingga ia dikenal orang sebagai Musa bin Fir'aun.
Musa Keluar Dari Mesir
Sejak ia dikembali ke istana oleh ibunya setelah disusui, Musa hidupsebagai salah seorang daripada keluarga kerajaan hingga mencapai usia dewasanya, dimanaia memperolehi asuhan dan pendidikan sesuai dengan tradisi istana. Allah s.w.t. mengurniakannya hikmah dan pengetahuan sebagai persiapan tugas kenabian dan risalah yang diwahyukan kepadanya. Di samping kesempurnaan dan kekuatan rohani, ia dikurniai oleh Allah s.w.t. kesempurnaan tubuhdan kekuatan jasmani.
Musa mengetahui dan sedar bahawa ia hanya seorang anak pungut di istana dan tidak setitik darah Fir'aun pun mengalir di dalam tubuhnya dan bahawa ia adalah keturunan Bani Isra'il yangditindas dan diperlakukan sewenang-wenangnya oleh kaum Fir'aun. Kerananya ia berjanji kepada dirinya akan menjadi pembela kepada kamunya yang tertindas dan menjadi pelindung bagi golongan yang lemah yang menjadi sasaran kezaliman dan keganasan para penguasa. Demikianlah maka terdorong oleh rasa setia kawannya kepada orang-orang yang madhlum dan teraniaya, terjadilah suatu peristiwa yang menyebabkan ia terpaksa meninggalkan istana dankeluar dari Mesir.
Peristiwa itu terjadi ketika Musa sedang berjalan-jalan di sebuah lorong di waktu tengahari di mana keadaan kota sunyi sepi ketika penduduknya sedang tidursiang, Ia melihat kedua berkelahi seorang dari golongan Bani Isra'il bernama Samiri dan seorang lagi dari kaum Fir'aun bernama Fa'tun.Musa yang mendengar teriakan Samiri mengharapkan akan pertolongannya terhadap musuhnya yang lebih kuat dan lebih besar itu, segera melontarkan pukulan dan tumbukannya kepada Fatun yang seketika itu jatuh rebah dan menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Musa terkejut melihat Fatun, orang Fir'aun itu mati kerana tumbukannya yang tidak disengajakan dan tidak akan mengharapkan membunuhnya. Ia merasa berdoa dan beristighfar kepada Allah s.w.t. memohon ampun diatas perbuatannya yangtidak sengaja, telah melayang nyawa salah seorang daripada hamba-hamba- Nya . Peristiwa matinya Fatun menjadi perbualan ramai dan menarik para penguasakerajaan yang menduga bahawa pasti orang-orang Isra'illah yang melakukan perbunuhan itu. Mereka menuntut agar pelakunyadiberi hukuman yang berat, bila iatertangkap.
Anggota dan pasukan keamanan negara di hantarkan ke seluruh pelusuk kota mencari jejak orang yang telah membunuh Fatun, yang sebenarnya hanya diketahuioleh Samiri dan Musa sahaja. Akantetapi, walaupun tidak orang ketiga yang menyaksikan peristiwa itu, Musa merasa cemasdan takut dan berada dalam keadaan bersedia menghadapi akibat perbuatannya itu bila sampai tercium oleh pihak penguasa. Alangkah malangnya nasib Musa yang sudah cukup berhati-hati menghindari kemungkinan terbongkarnya rahsia pembunuhan yang ia lakukan tatkala ia terjebat lagi tanpa disengajakan dalam suatu perbuatan yang menyebabkan namanya disebut-sebut sebagai pembunuh yang dicari. Musa bertemu lagi dengan Samiri yang telah ditolongnya melawan Fatun, juga dalam keadaan berkelahi untuk kali keduanya dengan salahseorang dari kaum Fir'aun. MelihatMusa berteriaklah Samiri memintapertolongannya. Musa menghampiri mereka yang sedangberkelahi seraya berkata menegur Samiri: "Sesungguhnya engkau adalah seorang yang telah sesat." Samiri menyangkal bahawa Musa akan membunuhnyaketika ia mendekatinya, lalu berteriaklah Samiri berkata:"Apakah engkau hendak membunuhku sebagaimana engkautelah membunuh seorang kelmarin? Rupanya engkau hendak menjadi seorang yang sewenang-wenang di negeri ini dan bukan orang yang mengadilkan kedamaian".
Kata-kata Samiri itu segera tertangkap orang-orang Fir'aun, yang dengan cepat memberitahukannya kepada para penguasa yang memang sedang mencari jejaknya. Maka berundinglah para pembesar dan penguasa Mesir, yang akhirnya memutuskan untuk menangkap Musa dan membunuhnya sebagai balasan terhadap matinya seorang dari kalangan kaum Fir'aun. Orang-orang Fir'aun mengatur rancangan penangkapan Musa, seorang lelakisalah satu daripada sahabatnya datang dari hujung kota memberitahukan kepadanya dan menasihatkan agar segera meninggalkan Mesir, kerana para penguasa Mesir telah memutuskan untuk membunuhnyaapabila ia ditangkap. Lalu keluarlah Musa terburu-buru meninggalkan Mesir,sebelum anggota polis sempat menutup serta menyekat pintu-pintu gerbangnya.
Penjelasan nabi musa
Kisah Nabi Musa dan Nabi Harus ‘alaihimassalam
penulis Al Ustadz Abu Muhammad Harits
Syariah Ibrah 14 - November - 2004 22:12:25
Allah Subhanahu wa Ta’ala memaparkan kisah Nabi Musa bin ‘Imran dan saudara Harun ‘alaihissalam demikian panjang. Allah menceritakan sejarah mereka pada beberapa tempat dlm Al Qur’an dgn uslub atau gayabahasa yg berbeda-beda kadang dgn ringkas dan kadang meluas sesuai dgn keadaannya. Tidak adakisah yg lbh besar dlm Al Qur’an selain kisah Nabi Musa ‘alaihissalam. Karena beliau betul-betul berupaya memperbaiki Fira’un dan tentara-tentara juga terhadap Bani Israil dgn upaya ygdemikian hebat.
Musa ‘alaihissalam adl nabi yg paling utama di kalangan Bani Israil begitu pula syariat serta kitab Taurat. Beliau ‘alaihissalam adl sumber rujukan para nabi BaniIsrail dan para ulama mereka. Pengikut beliau termasuk umat terbanyak di samping umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Nabi Musa ‘alaihissalam memiliki kekuatan dan ghirah yg besar dlm menegakkan agama Allah dan mendakwahkan yg tdk dimiliki olehyg lain. Beliau dilahirkan pada masa semakin hebat penindasan Fir’aun terhadap Bani Israil di mana ia menyembelih tiap bayi laki2 dari kalangan Bani Israil dan membiarkan hidup bayi perempuan utk dijadikan sebagai pelayan dan sekaligus cobaan. Ketika ibu melahirkan Nabi Musa timbullah rasa takut yg begitu hebat. Karena Fir’aun telah mengirimkan mata-mata yg mengawasi wanita yg sedang hamil dan akan melahirkan.
Rumah ibu Nabi Musa berada di tepi sungai Nil. Lalu Allah ilhamkan kepada ibu agar meletakkan bayi Musa di dlm sebuah peti dan menghanyutkan ke sungai Nil setelah mengikat agar tdk terhanyut krn goncangan air. Danmerupakan kelembutan Allah kepada adl dgn mengilhamkannya:
وَلاَ تَخَافِيْ وَلاَ تَحْزَنِيْ إِنَّا رَادُّوْهُإِلَيْكِ وَجَاعِلُوْهُ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ
“Janganlah kamu khawatir dan jangan pula bersedih hati krn sesungguh Kami akan mengembalikan kepadamu dan menjadikan salah seorang dari para Rasul.”
Setelah menghanyutkan ke air pada suatu hari terlepaslah ikatan peti yg membawa Musa kecil itu dan meluncur bersama aliran air. Dan dgn taqdir Allah peti itu jatuh ke tangan salah seorang keluarga atau pengikut Fir’aun. Akhir Musa kecil dibawa kepada isteri Fir’aun yg bernama Asiyah. Begitu melihat spontan tumbuh rasa cinta yg begitu besar dlm diri Asiyah terhadap Nabi Musa. Dan memang Allah telah meletakkan rasa cinta tehadap beliau dlm hati tiap orang.
Berita ini segera terdengar oleh Fir’aun dan dia meminta agar Musa kecil dibunuh. Isteri Fir’aun berkata: “Janganlah membunuhnya. Dia adl penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Mudah-mudahan ia bermanfaat bagi kita atau kita ambil ia menjadi anak.”
Maka selamatlah Nabi Musa dari kekejian mereka. Dan ini memberikan pengaruh dan juga pengantar yg baik sebagai usaha yg perlu disyukuri di sisi Allah. Ini termasuk salah satu sebab bagi isteri Fir’aun mendapat petunjuk dan beriman kepada Nabi Musa sesudah itu.
Adapun ibu Nabi Musa betapa terkejut dia dan menjadi kosonglah hatinya. Hampir saja kesabaran goyah dan dia membocorkan rahasia tentang Musa seandai Allah tdk meneguhkan hati supaya dia temasuk orang yg beriman . Dia berkata kepada saudara perempuan Nabi Musa: “Ikuti dan awasilah dia.”
Pada waktu itu isteri Fir’aun sudah berkali-kali menawarkan siapa yg mau menyusui Nabi Musa namun beliau tdk mau menerima susu dari wanita manapun. Akhir beliau kehausan sampai melingkar krn laparnya. Akhir mereka membawa keluar ke jalan-jalan barangkali Allah akan memudahkan menerima susu dari seorang wanita. Saudara perempuan Nabi Musa memperhatikan dari tempat yg tersembunyi dan merasa iba. Setelah mengetahui bahwa mereka mencari orang yg bisa menyusui Nabi Musa diapun berkata kepada mereka sebagaimana firman Allah:
هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى أَهْلِ بَيْتٍ يَكْفُلُوْنَهُ لَكُمْ وَهُمْ لَهُ نَاصِحُوْنَ.فَرَدَدْنَاهُ إِلَى أُمِّهِ كَيْ تَقَرَّ عَيْنُهَا وَلاَ تَحْزَنَ
“Maukah kalian aku tunjukkan ahlul bait yg akan memelihara utkkalian dan mereka dapat berlaku baik kepadanya? mk Kami kembalikan Musa kepada ibu supaya senang hati dan tdk berduka cita.”
Allah sebutkan kisah Nabi Musa inisecara rinci dan jelas dan bagaimana perubahan-perubahan keadaan yg dialami beliau. Denganmembaca surat ini saja sudah cukup menerangkan berbagai pengertian yg terkandung di dlm krn begitu jelas dan gamblang uraian kisah ini. Dan Allah Ta’ala tidaklah memperinci suatu permasalahan melainkan agar kitamengambil manfaat dan pelajaran dari masalah itu. Akan tetapi krn begitu banyak faidah dan pelajaran yg dapat diambil dari kisah ini mk kami perlu memberikan sedikit keterangan terhadap sebagiannya.
Pelajaran dari kisah Nabi Musa ‘alaihissalam
Di antara pelajaran yg dapat dipetik antara lain:
1. Maha Lembut Allah terhadap ibu Nabi Musa dgn memberikan ilham sehingga menyelamatkan beliau. Kemudian berita gembira dari Allah yg akan mengembalikan Nabi Musa kepada yg kalau tdk demikian dia merasa akan mati krn kesedihan mendalam saat mengingat puteranya. Kemudian Allah mengembalikan dgn mentakdirkan beliau menolak air susu yg ditawarkan oleh para wanita ketika itu.
Diketahui dari kisah ini bahwa sifat Maha Lembut Allah kepada para wali-Nya tdk akan tergambar dlm benak siapapun bahkan tdk mungkin dapat diungkapkan dgn kalimat seindah apapun. Perhatikanlah bagaimana berita gembira ini terjadi: Dia didatangi oleh putera menyusukan secara terang-terangan kemudian menerima upah sehingga lengkaplah dia sebagai ibu secara syar’i dan jugaberdasarkan taqdir Allah. mk menjadi tenteramlah hati dan bertambah pula keimanannya. Dankejadian ini menjadi pendukung bagi firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوْا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ
“Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu.”
Dan memang tdk ada yg lbh dibenci oleh ibu Nabi Musa daripada jatuh Musa ke tangan Fir’aun padahal ternyata kejadianberikut dan pengaruh sangat terpuji.
2. Ayat-ayat Allah dan pelajaran yg terjadi pada umat-umat sebelum mengandung pelajaran berharga. Adapun yg dapat memetik pelajaran atau mengambil cahaya dari kisah tersebut hanyalah orang2 yg beriman. Allah telah menguraikan kisah-kisah itu memang utk mereka sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala nyatakan dlm kisah ini:
نَتْلُوْا عَلَيْكَ مِنْ نَبَإِ مُوْسَى وَفِرْعَوْنَ بِالْحَقِّ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُوْنَ
“Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir’aun dgn benar utk orang2 yg beriman.”
Kalau Allah menghendaki sesuatu niscaya Dia mempersiapkan sebab-sebab dan memun-culkan satu persatu secara berangsur-angsur tdk sekaligus.
3. Kaum yg lemah dan tertindas sedemikian rupa tdk sepantas mereka dikuasai oleh sikap malas tdk mau berusaha memenuhi hak mereka dan tdk pula sepantas berputus asa utk menggapai kedudukan yg tinggi terutama sekali apabila mereka adl orang2 yg didzalimi.
Sebagaimana Allah telah menyelamatkan Bani Israil dari kelemahan dan keadaan mereka menjadi budak-budak Fir’aun dan para pembesar kemudian mengokohkan kedudukan mereka di muka bumi dan menyerahkan kekuasaan kepada mereka mengatur negeri Fir’aun.
Bangsa manapun juga selama dia berada dlm keadaan terhina dan tertindas tdk mungkin dapat menuntut hak-hak mereka. Bahkan tdk tegak urusan agama mereka sebagaimana hal urusan dunia mereka.
4. Rasa takut yg bersifat naluriahpada seseorang tidaklah menafikan dan melenyapkan keimanan sebagaimana yg dialami ibu Nabi Musa terhadap Nabi Musa. Iman itu dapat bertambah dan berkurang sebagaimana firman Allah:
لِتَكُوْنَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ
“Agar dia termasuk orang2 yg beriman.”
Yang dimaksud dgn kata Al-Iman di sini adl pertambahan dan bertambah ketenangannya.
5. Di antara ni’mat Allah yg paling besar terhadap seorang hamba adl kekokohan yg Allah berikan kepada ketika menghadapi rasa takut dan gelisah. Karena sesungguh sebagaimana bertambah keimanan dan pahala yg diperoleh mk semakin kuat dorongan utk mengucapkan dan melakukan hal-hal yg benar. Tinggallah pendapat dan pemikiran yg kokoh.
Adapun mereka yg tdk memperoleh keteguhan ini mk kegelisahan dan ketakutan akan membuat menyia-nyiakan akal pikiran sehingga tdk berguna bagidlm keadaan demikian.
6. Seorang hamba apabila dia mengetahui bahwa qadha dan qadar adl haq dan janji Allah pastiterjadi niscaya dia tdk akan menyia-nyiakan kesempatan utk melakukan usaha-usaha yg bemanfaat. Karena sesungguh suatu sebab dan upaya utk menjalankan termasuk bagian daritaqdir Allah. Allah telah berjanji kepada ibu Nabi Musa utk mengembalikan putera kepadanya. Namun ketika Nabi Musa dipungut oleh Fir’aun dia segera berupaya dgn mengutus saudara perempuan Nabi Musa utk mengintai dan menjalankan upaya-upaya lain yg terkait dgn keadaan waktu itu.
7. Diizinkan seorang wanita keluardari rumah utk suatu keperluan dan boleh pula mengajak bicara seorang laki2 dgn syarat tdk adaperkara yg diharamkan sebagaimana yg dilakukan oleh saudara perempuan Nabi Musa dan dua orang wanita yg dijumpaiNabi Musa di Madyan.
8. Diizinkan mengambil upah dlm menjaga dan menyusukan anak sebagaimana yg dilakukan oleh ibunda Nabi Musa. Dan syariat umat sebelum kita adl juga syariat bagi kita selama tdk ada yg menghapus dlm syariat kita.
9. Tidak boleh membunuh orang kafir yg mempunyai ikatan perjanjian atau kesepakatan dgn kita. Ini terlihat dari penyesalan Nabi Musa setelah membunuh seorang bangsa Qibti dan beliau memohon ampun dan bertaubat kepada Allah atas perbuatan tersebut.
10. Orang yg membunuh satu jiwatanpa alasan yg benar dikatakan sebagai jabbar yg berbuat kerusakan di muka bumi. Meskipuntujuan adl utk menimbulkan rasa takut dan menganggap diri sebagai orang yg mengadakan perbaikan sampai jelas-jelas ada ketentuan syariat yg membolehkan membunuh.
11. Berita dari seseorang kepada orang lain dgn suatu nukilan tentang keadaan diri dlm bentuk peringatan dari kemungkinan buruk yg akan menimpa bukanlah dianggap sebagai namimah. Bahkan boleh jadi merupakan suatu kewajiban seperti yg diuraikan Allah dlm bentuk pujian tentang seorang laki2 dari dlm kota yg segera menemui Musa utk mengingatkannya.
12. Apabila dikhawatirkan kebinasaan krn membunuh tanpa alasan yg benar dan akan diberlakukan hukuman di suatu tempat hendak jangan menjatuhkan diri sendiri ke dlm kebinasaan atau menyerah. Tapi hendaklah jika dia sanggup melarikan diri dari tempat itu seperti yg diperbuat oleh Nabi Musa.
13. Apabila suatu ketika mau tdk mau seseorang dihadapkan kepada dua mafsadah mk jelas bagi utk mengambil yg paling ringan dan lbh selamat serta menolak mafsadah yg lbh berat dan berbahaya. Di sini ketika Nabi Musa berada di antara dua pilihan; tetap tinggal di Mesir tapi ditangkap dan dibunuh atau melarikan diri ke negeri lain yg sama sekali belum diketahui arahnya. Dan beliau tdk mempunyai penunjuk jalan kecuali hanya mengharapkan bimbingan Rabbnya. Dan sebagaimana diketahui hal ini lbh dekat kepadakeselamatan mk beliau memilih yg kedua.
14. dlm kisah ini terdapat penjelasan yg halus bagi orang ygmempelajari suatu masalah yaitu di saat seseorang ingin beramal atau berfatwa namun belum jelas bagi mana dari dua pendapat yg dihadapi ini yg lbh kuat mk hendaklah dia memohon hidayah kepada Rabb- dan memohon agarDia membimbing kepada yg lbh mendekati kebenaran dari kedua pendapat tersebut. Dan ini tentu sesudah dia bersungguh-sungguh mengadakan penelitian dan memang mempunyai niat yg tulus mencari kebenaran. Allah pasti tdk akan menyia-nyiakan orang yg demikian keadaannya. Sebagaimana yg dialami Nabi Musaketika dia mengarah ke negeri Madyan dlm keadaan belum tahu arah dan jalan mana yg harus ditempuhnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَمَّا تَوَجَّهَ تِلْقَاءَ مَدْيَنَ قَالَ عَسَى رَبِّيْ أَنْ يَهْدِيَنِي سَوَاءَ السَّبِيْلِ
“Dan tatkala ia menghadap ke jurusan negeri Madyan ia berdoa: Mudah-mudahan Rabbku memimpinku ke jalan yg benar.” .
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membimbing dan memberikan apa yg diharapkannya.
Wallahu ‘alam bish-shawab.
KISAH NABI MUSA ALAI HIS SALAM
Nabi Musa adalah seorang bayi yang dilahirkan dikalangan Bani Isra'il yang pada ketika itu dikuasai oleh Raja Fir'aun yang bersikap kejam dan zalim. Nabi Musa bin Imron bin Qahat bin Lawibin Ya'qub adalah beribukan Yukabad. Setelah meningkat dewasa Nabi Musa telah beristerikan dengan puteri Nabi Syu'aib iaitu Shafura. Dalam perjalanan hidup Nabi Musa untukmenegakkan Islam dalam penyebaran risalah yang telah diutuskan oleh Allah s.w.t. kepadanya ia telah diketemukan beberapa orang nabi diantaranyaialah bapa mertuanya Nabi Syu'aib, Nabi Harun dan Nabi Khidhir. Dalam bab ini juga ada diceritakan tentang perlibatan beberapa orang nabi yang lain di antaranya Nabi Somu'il serta Nabi Daud
Catatan :~
Para ahli tafsir berselisih pendapat tentang Syu'aib, mentua Nabi Musa. Sebahagian besar berpendapat bahawa ia adalah Nabi Syu'aib a.s. yang diutuskan sebagai rasul kepada kaum Madyan, sedang yang lain berpendapat bahawa ia adalah orang lain iaitu yang dianggap adalah satu kebetulan namanya Syu'aib juga. Wallahu A'lam bisshawab
Kelahiran Musa Dan Pengasuhnya
Raja Fir'aun yang memerintah Mesir sekitar kelahirannya Nabi Musa, adalah seorang raja yang zalim, kejam dan tidak berperikemanusiaan. Ia memerintah negaranya dengan kekerasan, penindasan dan melakukan sesuatu dengan sewenangnya. Rakyatnya hidup dalam ketakutan dan rasa tidak aman tentang jiwa dan harta benda mereka, terutama Bani Isra'il yang menjadi hamba kekejaman, kezaliman dan
Langganan:
Postingan (Atom)